DEMO DI HADAPAN
ISTANA TUHAN
(Diskusi-1 menyerahkan diri hanya kepada Allah)
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
Jauh sebelumnya,
saya masih ingat betul bagaimana peristiwa “98” melalui berita-berita di
televisi, berita itu masih sangat lekat di ingatan saya, ribuan Mahasiswa
melakukan demonstrasi di depan istana presiden, di jalan-jalan, dan berbagai
tempat yang dianggap strategis. Secara garis besar kalau kita tarik kesimpulan
sementara bahwa demonstrasi dilakukan ketika ada kebijakan-kebijakan yang
dianggap menyeleweng dan atau rakyat merasa dirugikan oleh pihak penguasa.
Cerita itu
berlanjut ketika saya masih duduk di kelas sekolah menengah pertama di sebuah
kampung yang jauh terpencil dari hiruk pikuknya kota. Dan dari berita itu
pulalah maka tersebar cepat bahwa Mahasiswa Indonesia yang melakukan
demonstrasi di jalan-jalan atau di manapun adalah suatu kegiatan yang sangat
bodoh dan malah merugikan, merusak fasilitas yang seharusnya bisa dinikmati
semua kalangan masyarakat. Sehingga pada waktu itu orang tua yang tergolong
masyarakat awam menganggap kegiatan itu hanyalah sebuah awal dari kehancuran.
Waktu terus
berjalan hingga tibalah waktunya untuk merasakan bagaimana duduk di bangku
kuliah, awalnya saya masih menganggap biasa saja karena tingkah laku, sikap,
sifat masih sangat di pengaruhi oleh masa-masa sekolah. Namun, ternyata apa
yang terpikirkan itu mulai hilang dan gugur dengan sendirinya. Kala itu
mulailah orang-orang yang saya anggap “misionaris” berpencar untuk mencari
siapa yang akan di doktrin habis-habisan untuk melanjutkan misi organisasi yang
telah lahir lebih dari 63 tahun pada waktu itu.
Singkat cerita,
di organisasi tersebut memberikan sebuah harapan yang sangat cerah yang awalnya
saya malah berpikiran bahwa organisasi ini tidak benar dan tidak sejalan dengan
apa yang diajarkan oleh para orang tua saya dulu. Namun, Karena dengan
pendekatan-pendekatan yang sangat persuasif membuat hati dan pikiran saya luluh
untuk dapat bergabung dan turut mengambil satu tempat di antara mereka.
Organisasi
inilah yang selanjutnya mengajak saya bagaimana mengenal langkah-langkah,
staratak (strategi dan taktik), serta etika melakukan aksi demonstrasi.
Pengalaman pertama memberikan kesan bahwa ternyata apa yang telah dianalisa
oleh para orangtua di kampong berbanding terbalik dengan apa yang didapatkan di
lapangan. Melakukan aksi demonstrasi membuat saya memahami makna kecintaan,
kesetiaan, kebersamaan, prihatin, marah, dan mengerti arti sesungguhnya
perbuatan yang ikhlas dan murni tanpa adanya campur tangan dari luar lembaga.
Bertahun-tahun
berlalu, kegiatan mahasiswa memang saya akui bahwa setiap harinya bahkan setiap
jamnya akan selalu ada dan tidak pernah kehabisan akal untuk bagaimana
mengembangkan intelektualitas, mental dan rasa kepemimpinan. Sekilas itulah
yang dapat saya fahami tentang arti demosntrasi. Meskipun saya percaya bahwa di
luar sana masih banyak orang-orang yang mengartikan lain. (hal wajarlah,
hahahaha)
Beruntung
saya masih diberi umur selama kurang dari 4 tahun berikutnya. Di mana pemikiran
boleh dikatakan mulai tumbuh dewasa dari sebelumnya, artinya semua boleh kita
dengar asalkan jangan langsung kita ikuti. Sebaik-baiknya makanan yang kita
konsumsi. Akan tetapi ketika kita langsung telan maka kita akan tersedak. Yah
begitulah gambarannya tentang ilmu, boleh kita semua mendengarkannya melalui
telinga dan menyaring yang baiknya.
Alasan
mengangkat judul ini karena pada waktu masa “pencarian” saya sempat mendengar
pengakuan dari salah seorang sarjana muda yang aktifitas lainnya hanyalah
seorang pedagang keliling di pinggir-pinggir jalan, di pasar-pasar malam, di
depan bank dan di tempat lainnya. Beliau mengatakan seperti ini “seandainya
kita bisa demo Tuhan ya?”.
Pengakuan
itu sebenarnya merupakan sebuah pertanyaan bagi saya. Namun, waktu itu saya mengalihkan pada
pembahasan lain yang membuat beliau melupakan pertanyaan tadi. Di sisi lain
juga dapat memberikan kesempatan kepada saya untuk merenung sejenak memikirkan
hal tersebut. Dalam hati iya juga ya? Kenapa tidak?.
Pertanyaan
itu terus menghantui pikiran saya sehingga sampai pada waktunya saya
menyempatkan untuk menuliskannya pada sebuah tulisan lepas (ya, katakan saja
seperti itu). Permasalahan lain yang mendasari pemikiran ini muncul adalah
permasalahan yang “klasik”[1].
Kenapa
dikatakan klasik, karena pada intinya pembahasan ini telah menjadi bahan
diskusi yang sangat menarik bagi kalangan pelajar (mahasiswa) dan sebagian
masyarakat lainnya. Pembahasan itu tidak lain adalah pembahasan mengenai
“takdir”.
Dalam
buku tersebut juga telah dijelaskan bagaimana terjadinya, mekanisme dan
aplikasi takdir itu sendiri. Namun, yang lebih menarik bagi saya adalah takdir
atau yang biasa kita sebut dengan kata Qadla dan Qadar itu memang sama-sama
ketetapan yang Allah buat. Pertanyaannya kemudian adalah mengapa ada dua kata
yang berbeda dari segi penulisan namun tetap satu arti?. Yang keliru dalam
mengartikan tersebut adalah Tuhan atau manusia itu sendiri?. Agar pemikiran
kita lebih kacau mari kita tinggalkan sejenak pembahasan dari buku tersebut.
Kalaupun
ada yang melakukan aksi demonstrasi dengan tujuan untuk menuntut kebijakan
penguasa. Mengapa tidak kita demo Tuhan sejak kita sudah mencapai masa baligh?
Bukankah masa itu adalah masa yang paling baik untuk memulai sesuatu kea rah
yang lebih baik? Dan bukankah tujuan dari demosntrasi itu adalah menuju kearah
yang lebih baik? (ya, pertanyaan itulah yang bisa mengantarkan kita pada
pembahasan selanjutnya).
Subhanallah,
sungguh Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui apa yang telah direncanakan
manusia di muka bumi ini. Sehingga pembahasan ini tidak menjadi sesuatu yang
melecehkan ke-Agung-an Tuhan. Inti dari permasalahan ini sebenarnya berawal
dari sebuah intimidasi keadaan yang seharusnya kita sebagai manusia menyadari
betapa buruknya manusia ketika tidak berbuat apa-apa untuk merubah keadaan
tersebut menjadi yang lebih baik yang akan menjadi kebutuhan manusia itu
sendiri.
Buka
hal baru ketika mahasiswa atau pun sekelompok masyarakat yang turun melakukan
aksi demonstrasi, lalu mengangkat satu permasalahan atau pun beberapa
permasalahan. Sehingga dalam tulisan ini juga akan berangkat dari satu
permasalahan yang bisa kita katakana memang berhak kita perjuangkan sebagai
manusia di hadapan-NYA
Pasti berangkat karena adanya sebuah
permasalahan
Telah
banyak orang yang telah mengangkat permasalahan ini, baik di forum-forum
diskusi atau pun pada pertemuan-pertemuan semi formal. Tapi itu pun hanya
berputar pada permasalahan takdir. Namun, pembahasan kita kali ini dengan
membawa Permasalahan bernama “Memperjuangkan
takdir di depan istana Tuhan”.
Wah,
sungguh aneh sekali pembahasan kita kali ini, jangankan memperjuangkan takdir
di depan Tuhan Yang Maha Kuasa, memperjuangkan nasib di depan penguasa saja
sangatlah susah dan butuh pengorbanan yang sangat besar. Terutama korban waktu
untuk menyusun strategi-strategi yang sangat jitu yang dapat membuat penguasa
atau atasan kita menjadi perhatian kepada kita. Bukankah begitu? Tentunya ya,
bayangkan saja, sebelum kami melakukan aksi demonstrasi menuntut kebijakan-kebijakan
atau pun yang lainnya saja secara otomatis menghabiskan waktu kami sepanjang
malam untuk menyusun strategi, dan lain sebagainya. Dan biasanya beberapa hari
sebelum demo kita biasanya sudah banyak mengorbankan waktu kita hanya dengan
satu permasalahan. Seperti misalnya, korban waktu mengumpulkan massa, korban
waktu mendiskusikan permasalahan, dan lain-lain (pokoknya banyak deh).
Dan
walaupun demikian begitu kenyataannya, bukan hal yang mustahil bagi kita untuk
melakukan demo di depan istana-NYA. Percaya atau tidak, karena kita tidak
memerlukan isyu yang lagi hangat dibicarakan oleh orang-orang atau yang lagi
hangat diberitakan di media-media massa. Akan tetapi isyu itu kita bisa buat
sendiri kok. Mari kita buktikan.
Langsung
saja kita masuk pada satu contoh isyu yang bisa kita buat sendiri. Kita ambil
contoh bagaimana caranya kita memperjuangkan takdir di hadapan-NYA. Diantara
banyaknya contoh yang bisa kita angkat.
Seperti
yang kita ketahui bersama bahwa apa yang telah ditetapkan Tuhan. Maka, kita
tidak bisa mengganggu gugat. Siapa bilang?. Bukankah kita percaya ada ketetapan
yang belum tentu ditetapkan Tuhan kepada seorang hamba-NYA ketika hamba itu
sendiri tidak berusaha untuk sampai pada ketetapan itu?. Misalnya, Allah sudah
jelas menetapkan bahwa dalam kehidupan manusia ada ketetapan kaya dan miskin.
Ketetapan itu sebenarnya berlaku untuk semua manusia sehingga ketika kita tidak
menginginkan ketetapan miskin tersebut ditetapkan pada diri kita maka tentunya
kita akan berusaha untuk tidak miskin (kan begitu). Dan yang perlu kita fahami
bahwa usaha itu perlu mental dan jiwa yang tegas dan kuat serta hati yang
lembut sehingga pikiran kita selalu positif akan hal itu.
Sama
halnya ketika kita demo kebijakan penguasa (pemerintah), tentunya kita harus tahu
akar permasalahannya dulu. Sehingga kita bisa menemukan berbagai strategi untuk
melakukan hal tersebut. Sangat berbanding terbalik dengan konsep mendemo Tuhan,
justru kita hanya cukup bisa membedakan mana yang menjadi ketetapan mutlak dan
mana yang tidak. Adapun strateginya kita tidak perlu lagi capek-capek begadang
untuk memunculkan atau membahasnya, bukankah Tuhan telah menjelaskan strategi
itu melalui Firman dalam Kitab-NYA yang Suci? Artinya Tuhan telah memerintahkan
kepada kita manusia untuk memperjuangkan takdir kita masing-masing di
Hadapan-NYA. Percaya atau tidak, perhatikan arti ayat berikut :
Q.S AlAn’am:39
Dan orang-orang
yang mendustakan ayat-ayat Allah adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap
gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya
disesatkan-NYA.[2]
Dan baranggsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi petunjukya), niscaya Dia
menjadikannya berada di atas jalan yang lurus
Al-An’am:130-135
Hai golongan jin
dan Manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu
sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-KU dan memberi peringatan
kepadamu terhadap pertemuanmu hari ini? Mereka berkata “kami menjadi saksi atas
diri kami sendiri” kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi
saksi atas diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. Yang
demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara
aniaya sedang penduduknya dalam keadaaan lengah. Sesungguhnya apa yang
dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup
menolaknya. Katakanlah “hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu,
sesungguhnya aku pun berbuat (pula), kelak kamu akan mengetahui siapakah (di
antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya
orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapat keuntungan.
Hemmm.
Apa lagi sih maknanya ayat ini? Kok dihubungkan ke pembahasan ini gitu loh.
Seperti yang dibahas pada halaman sebelumnya bahwa masih banyak
ketetapan-ketetapan yang perlu kita perjuangkan di hadapan Tuhan. Dan demi
memperjuangkan itu kita juga sudah diberi petunjuk oleh tuhan dalam ayat
tersebut di atas.
Bukan
berarti Tuhan yang bergantung pada manusia, tetapi kita coba untuk
membalikkannya sehingga menjadi fakta (kebenaran) bahwa justru manusialah yang
bergantung atas Rahmat Tuhan. Jadi semua yang kita usahakan, tanpa adanya
Rahmat Tuhan maka akan sia-sia belaka. Jelas terbukti bahwa bukanlah Tuhan yang
bergantung atas diri manusia.
Yang harus diperhatikan di dalam aksi demo
Percaya
atau tidak, yang melakukan demo dengan tujuan yang baik dan menjadikan sesuatu
yang tidak diinginkannya pastilah dilakukan dengan cara yang baik pula, berbeda
halnya ketika tujuan demo tersebut lain daripada yang lain.
So.
ketika sekelompok mahasiswa melakukan
gugatan atas kebijakan pemerintah yang dianggap melenceng dari yang sesuai
dengan harapan masyarakat maka sebaiknya menghindari untuk melakukan
penyerangan (berkata yang kurang pantas) terhadap pribadi dari atau atas nama
pemerintah tersebut, terkecuali hanya boleh mengkritik secara lembaga
pemerintahannya saja. Sekedar mengingatkan bahwa yang perlu kita ketahui dalam
mendemo Tuhan semestinya hamper sama dengan yang baru saja kita bahas yaitu
adalah kita sangat diharamkan untuk mengingkari ketetapan-ketetapannya. Melainkan
kita dianjurkan untuk dapat memahami petunjuknya dalam hal mendemo Dia di depan
istana-NYA. Artinya ketetapan-NYA adalah salah satu bentuk interpretase Dia
untuk kita kenali, seperti pada arti ayat tersebut di bawah ini:
(Yang dibacakan ini adalah)
penjelasan tentang Rahmat Tuhan kepada hambanya. Zakaria. Yaitu tatkala iya
berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata “Ya Tuhanku,
sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku
belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, Ya Tuhanku. Dan sesungguhnya
aku khawatir terhadap mawaliku.[3]
Sepeninggalku. Sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku
dari sisi Engkau seorang putera. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian
keluarga ya’qub: dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai. Hai
Zakaria, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh)
seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya kami belum pernah menciptakan
orang yang serupa dengan dia. Zakaria berkata “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada
anak bagiku, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri)
sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua. Tuhan berfirman;
“Demikianlah,” Tuhan berfirman “ Hal itu adalah mudah bagi-KU; dan sesungguhnya
telah aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama
sekali. Zakaria berkata “ Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda” Tuhan berfirman
“tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama
tiga malam, padahal kamu sehat. Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu
ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan
petang.
Nah, dari ayat tersebut di atas
menggambarkan bahwa ada ketetapan seorang Nabi sekalipun tidak akan mendapatkan
keturunan seandainya ia tidak berusaha dalam hal itu.[4]
Ayat di atas pula menjelaskan
strategi yang paling jitu untuk memperjuangkan ketetapan sehingga apa yang
ditetapkan kepada kita adalah sesuatu yang kita inginkan yang bisa membuat kita
semakin patuh kepada-NYA. Bukan malah sebaliknya bahwa ketika kita sebelumnya
berdo’a dengan ikhlas dan berusaha dengan keras sehingga tiba pada waktunya
ketetapan itu datang lalu kita semakin menjauh dari perintah-NYA.
Tidak
perlu waktu lama untuk demo
Jika
kita hitung yang wajibnya saja maka kita hanya membutuhkan waktu 15 menit di
bagi dalam 5 waktu dalam seharinya untuk melakukan demo dengan ketentuan
strategi yang telah ditentukan tadi .dengan artian kita hanya perlu 3 menit untuk menunaikan kewajiban plus berdo’a
meminta Rahmat-NYA.
Ditambah dengan strategi yang lain
yang sudah dijelaskan pula yang hanya memakan waktu kurang dari semenit. Kalau
mau bukti bisa kita praktikkan sekarang dengan mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim” setiap ingin
memulai sesuatu dan mengakhirinya dengan ucapan “Alhamdulillahirabbi’alamin”. Nah kalau begitu, bukankah kita sudah
melakukan demo dihadapan Tuhan dengan dasar Firman-NYA? Dan saya selalu
berpikir bahwa apa salahnya kita demo Tuhan demi kebaikan dan demi mencapai
Rahmat-NYA. Yang perlu kita hindari ketika adalah disaat kita memulai usaha dan
mendapatkan sedikit jalan buntu lalu spontan kita ucapkan kata-kata “sialnya
hari ini”. Dan kita juga harus cepat-cepat menyadari kesia-siaan itu hanya
untuk mengucapkan perkataan yang kurang terpuji tersebut, dan seharusnya kita
juga sadar untuk melakukan flashback bahwa oh ya “Astagfirullahal Adzim” karena
waktu memulai tadi saya lupa untuk berdo’a (colek Tuhan).[5]
Men”colek”
Tuhan dengan cara-cara yang benar
Mencolek
Tuhan yang dimaksud di sini ialah bagaimana menyentuh perasaan hati dan
pikiran) kita sendiri dengan cara-cara yang benar sehingga apa yang kita
inginkan dapat terkabulkan. Mengapa kita perlu melakukan semua itu? Tidak lain
adalah supaya kita bisa membedakan betapa Sucinya Tuhan sehingga kita tidak
dapat menyentuh-NYA dengan tangan kasar kita, sebaliknya kita pun sebenarnya
mampu menyentuh-NYA dengan hati yang ikhlas dan pemikiran yang telah disucikan
dari pikiran-pikiran yang dapat merusak hubungan kita dengan Tuhan. Sehingga
kita merasa sudah pantas untuk dapat menyentuh Tuhan dengan cara tersebut.
Saya analogikan secara sederhana.
Misalnya anda ingin mengajak seseorang berkenalan, colek saja seseorang yang
berada di samping anda sebelum anda yakin bahwa anda belum pantas untuk
mencoleknya, lihat apa yang akan terjadi terhadap diri anda?. Dan cobalah anda
colek lagi orang yang lainnya yang memang anda pantas untuk melakukannya, lihat
hasilnya?.
Percobaan pertama kemungkinan yang
akan terjadi adalah orang itu akan heran, marah, atau meninggalkan anda.
Sedangkan, percobaan yang kedua kemungkinan yang terjadi adalah orang itu
justru berbalik melakukannya kepada anda dengan maksud yang sama tanpa
menimbulkan sesuatu yang buruk.
Artinya bahwa, ada sesuatu yang
memang harus kita lakukan terlebih dahulu sebelum terjadinya saling
sentuh-menyentuh tersebut. Dan dalam menyentuh pun kita harus mempraktikkannya
dengan benar pula, bukan dengan serta merta kita sudah yakin bahwa tidak akan
terjadi sesuatu di luar daripada perkiraan kita sehingga kita seenaknya saja
menyentuh, tidak. Melainkan yang perlu kita perhatikan adalah sejauhmana dan
selembut apa kita menyentuh sehingga kita mendapat balasan yang sepadan dengan
apa yang telah kita perbuat dan balasan itu dengan maksud yang sama pula.
Itulah yang saya maksud dengan rukun-rukun. Sebaik apapun hasil dari perbuatan
yang telah kita lakukan tapi rukun-rukunnya belum terpenuhi maka tidak akan
lebih baik ketimbang yang telah terpenuhi.
Sama halnya dengan berdo’a tadi, ada
rukun-rukun yang harus kita penuhi sehingga do’a kita tersebut dikabulkan.
Dikabulkannya do’a artinya kita juga telah disentuh oleh Tuhan melalui
perantara apa yang kita do’akan.
Misalnya, kita berdo’a meminta
rezeki yang halal, lalu kita memenuhi rukun-rukun do’a[6]
tersebut dengan mencari rezeki yang halal pula atau dengan kata lain membuat
diri kita pantas untuk berdo’a meminta rezeki yang halal. Dan ketika Tuhan
telah mengabulkan do’a kita tersebut secara otomatis kita telah disentuh oleh
Tuhan melalui rezeki-NYA.
[1] Agus Mustofa. Mengubah Takdir, Serial Ke-7 Diskusi Tasawwuf modern. Hlm. 15.
[2] Orang yang karena
keingkarannya tidak dapat memahami petunjuk Allah. Dalam ayat ini mereka menjadi
sesat karena mereka ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan
nyamuk sebagai perumpamaan
[3]
Yang dimaksud Zakaria dengan mawali adalah orang-orang yang akan mengendalikan
dan melanjutkan urusannya sepeninggalnya, yang dikhawatirkan Zakaria
adalah kalau mereka tidak dapat
melaksanakan urusan itu dngan baik, karena tidak seorang pun di antara mereka
yang dapat dipercayainya, oleh sebab itu di meminta untuk dianugerahi seorang
anak.
[4]
Hanya Zakaria dan tuhan yang tahu bagaimana zakaria melakukannya dengan
istrinya sehingga ia dikaruniai seorang anak yang bernama Ya’qub
[5] Rahmat-NYA akan menyentuh
kita ketika kita selalu mengingat-NYA, begitupun sebaliknya akan jauh,
jangankan tidak ingat lupa mengingt-NYA saja sudah sangat besar kemungkinan
Rahmat-NYA akan jauh kepada kita.
[6] Perlu menambahkan bahwa
rukun-rukun do’a berada pada usaha kita, sejauh mana kita berusaha dan kita
mendo’akan atas usaha yang kita lakukan maka kita telah menjalankan satu rukun.
Artinya rukun-rukun bisa kita lakukan dengan cara membuat diri kita pantas
untuk melakukannya.
Muh.Rajab
Ketua Komisariat STAIS Cabang Sangatta
Komentar
Posting Komentar