Saya akan melanjutkan cerita pada masa di sekolah dasar (SDN .No .019 Balanipa) . seperti apa yang telah saya ceritakan sebelumnya bahwa ada seorang teman yang ketika awal masuk sekolah tidak mau ditinggalkan oleh bapaknya, kejadian ini terjadi berulang kali hingga akhirnya si anak tersebut mulai terbiasa untuk tidak ditunggu dan ditemani oleh bapaknya, mungkin karena bujukan sang guru atau karena sudah beradaftasi sama teman-teman seperti apa yang saya tulis sebelumnya.
Di Kelas satu (I) sekolah dasar saya memiliki Nomor induk siswa 097 ,ini saya tulis sekedar memberitahukan saja itung-itung menambah jumlah karakter tulisan ini kira-kira begitu. Kita lanjutkan ceritanya, di kelas satu kami di ajar oleh ibu Rosmiati karena titelnya saya lupa maka saya tidak cantumkan, semoga beliau tidak marah karena kealpaan ini.
Awal pembelajaran terlebih dahulu kami di ajarin berdo’a sebelum belajar, setelah itu kami di absen satu persatu, agar ibu guru tau wajah dan nama muridnya, kira-kira begitu. Hari berikutnya kami mulai di ajarin tentang huruf-huruf latin (abjad), tahap awal belajar abjad hanya sebagian saja, disesuaikan kemampuan murid untuk menghafal, kemudian dilanjutkan kehuruf berikutnya. Selanjutnya kita di ajarkan untuk mengenal huruf hidup (Vokal) dan huruf mati ( konsonan). Kemudian di ajar menyusun huruf dan membaca. Tentunya bukan cuman pelajaran membaca yang diberikan guru kepada kami tapi juga pelajaran berhitung (Matematika dasar) yang dimulai dengan mengenal angka satu (1) sampai 10untuk tahap pemula.
Beberapa hari setelah belajar menulis dan membaca huruf, saya mulai rajin menulis dan yang paling sering saya tulis yaitu nama sendiri. Saking kerajinan nulis sampai-sampai dinding rumah orang bahkan di aspal jalan raya juga saya tulis nama. Maklum baru tau membaca dan menulis. Saya menulis menggunakan sisa kapur tulis yang saya ambil ketika pulang sekolah.
Hari berganti bulan tibalah waktunya ulangan semester dan hasilnya sangat memuaskan karena saya berhasil meraih peringkat satu dari sekian banyak teman sekelas saya. Dan peringkat satu ini saya pertahankan hingga kenaikan kelas dengan tanpa ada nilai merah, mudah-mudahan tidak salah dalam mengingat. Peringkat satu ini berlanjut saya pertahankan di kelas II (Dua). Meskipun saya banhyak izinnya karena ikut orang tua ke tempat keluarga untuk panen padi (massangking) kadang sampai setengah bulan bahkan lebih, namun saya tetap memegang peringkat pertama,
Kepala Sekolah pada saat itu masih di jabat oleh pak Umar yang tinggal di dusun Lamasariang yang merupakan tetangga dusun Paayumang tempat tinggal saya pernah mengatakan sama bapak kalau bisa anakmu ini jangan di ikutkan serta ke segerang (nama daerah tempat tinggal saudara dari ibu) untuk massangking ( motong padi disawah) karena sayang anaknya akalnya lumayan bagus ( ranking satu terus) kata beliau. Orang tua saya berkata mau bagaimana lagi Puang (ungkapan terhadap orang tua atau di segani di Mandar dengan kata lain ungkapan penghormatan atau penghargaan) karena tidak ada yang dia temani di sini (di Rumah) kalau kami pergi, jadi mau tidak mau harus ikut ini anak. Akhirnya ini berlanjut sampai naik kelas V SD,
Pada waktu kelas IV SD, saya mencoba untuk berusaha dengan cara menjual es lilin di sekolah. Sampai kelas V saya tetap berjualan es lilin dan es kue, dan pelanggang setia yang selalu membeli es adalah teman saya sendiri yaitu Nasriadi yang merupakan anak pegawai Negeri bagian perkebunan. Kegiatan saya setiap pagi sebelum masuk sekolah adalah pagi-pagi ke Desa Tammangalle yang Jaraknya kurang lebih satu kilo meter dari Rumah untuk mengambil es lilin dan saya jual di sekolah, maklum lah saya termasuk dari golongan keluarga yang kurang mampu, sehingga untuk bisa belanja nasi kuning pada saat istirahat, harus berusaha juga, karena orang tua tidak bisa memberikan uang jajan tiap hari, meski harga nasi kuning tanpa ikan satu bungkus bisa dibeli dengan harga Rp. 50 pada waktu itu. Terkadang saya mencunkil celengan ibu yang berisi uang koin tebal nominal Rp. 100 dengan menjepitnya pake gunting atau lidi. Meskipun pada saat melakukan itu ada perasan takut dan gemetar namun untuk bisa jajan itu tetap saya lakukan, ibu saya sering marah kalau tau uangnya saya ambil.
Dari berjualan es lilin saya sempat menabung di bambu yang saya bolongi, terkadang saya masukan Rp. 200 sampai Rp. 300, ketika saya buka isinya sampai Rp.8.000, saat itu uang segitu masih berharga sekali. Namun pernah juga saya dan teman berjualan es yang laku cuman Rp.100 sedangkan yang kami bawa itu total harganya Rp.1.000, jadi kami sendiri yang makan, waktu itu kami tidak berani mengembalikan termos karena uangnya tidak ada esnya sudah habis, kami di cari bos yang punya es lilin, ketika kami antar kami di ancam di tahan sampai harga es itu diganti. Kami pulang kerumah untuk mengambil uang pengganti tersebut, saya sendiri tidak punya uang, teman yang satunya kalau tidak salah dia tetap penjualan untuk menyicil uang yang harus diganti sedangkan saya berhenti berjualan dan uang itu di ganti oleh ibu saya, tentunya dengan imbalan marah-marah yang dilengkapi dengan nasehat.
Di Sekolah Dasar ini saya memiliki teman yang baik-baik terutama Nasriadi tadi karena anak pegawai uang jajannya lumayan banyak lah sehingga saya selalu ditraktir nasi kuning bikinan Daeng yang terletak di pinggir sekolah. Nasi kuning yang lauk ala kadarnya (batte anjoro) kelapa yang di jemur dengan dicampur lombok kemudian di sangrai selama beberapa menit sampai kering kemudian di haluskan dengan cara di tumbuk dan di tambah kerupuk unyil. Bagi kami merupakan makanan istimewa pada saat itu.
Karena pada saat itu lagi musim sandiwara radio tutur tinular, kami sambil istirahat juga mendengarkan sandiwara radio tersebut, sampai tidak ingat waktu masuk gara-gara mendengarkan Sandiwara radio Arya Kamandanu. Sandiwra radio tersebut merupakan salah satu hiburan yang bisa kami nikmati, karena belum ada siaran TV swasta Nasional seperti sekarang. TV pada saat itu hanya TVRI yang mulai mengudara di tempat kami ketika jam empat sore smpai tengah malam, dan pada hari minggu kita hanya bisa menonton Film kartun POLICE, dan setelah Album Minggu ada Film si Unyil setelah itu ada Ateng. Setelah Tahun 1994 barulah TPI muncul dengan program Film India dan salah satu acara yang paling trend pada saat itu adalah kisah MAHABARATA, dan terkadang kami bolos untuk menonton film tersebut, dan besoknya pasti kena hukuman berdiri di depan kelas angkat kaki kemudian kakinya di pukul pake mistar yang terbuat dari kayu.
Saat kelas V Sekolah Dasar sudah mulai muncul perasaan suka sama lawan jenis (puber istilah kerennya). Kebetulan pada saat itu guru kami punya anak yang lumayan cantik, ceritanya timbul rasa suka, sehingga pada saat itu anaknya sang guru tadi mengaji di mesjid Tammangalle. Saking pengennya ketemu saya minta sama bapak supaya saya di antarkan untuk mengaji di tempat tersebut. Bapak saya waktu itu bilang betul ajakah kamu itu mau mengaji..?? saya jawab ya kebetulan juga teman yang di atas saya mengaji di sana, untuk memuluskan rencana saya tersebut saya ajak teman-teman untuk ikut mengaji, pada saat itu ada syarifuddin dan Nasriadi yang masuk mengaji.
Kami mengaji dengan mempelajari Nahwu syaraf serta Tajwid dan ada juga pelajaran menjadi penceramah, namun karena dari awal niatnya sudah salah, maka semua pelajaran itu susah masuknya. Pengajian tersebut terkadang kita tidur di Masjid, sehabis shalat subuh kita ada pelajaran tambahan yakni membahas tentang kitab adab seorang anak terhadap orang tua, serta adab dalam menuntut ilmu. Terkadang saya bangun dari mesjid melanjutkan tidur di panggung bekas lomba MTQ, setelah orang shalat subuh baru saya turun untuk shalat subuh, pernah suatu waktu saya di siram air oleh H. Sudirman pengelola masjid, karena saya bangun tidur di Mesjid melanjutkan tidur di panggung sementara waktu subuh sudah mau masuk waktu subuh.
Pengajian itu saya geluti selama satu tahun lebih, saya berhenti karena guru saya juga berhenti gara-gara cinta bertepuk sebelah tangan dengan salah satu gadis di dekat Masjid, meski sebenarnya bukan itu satu-satunya alasan yang membuat beliau berhenti. Setelah beliau berhenti saya juga mulai malas-malasan pergi mengaji dan pada akhirnya berhenti dengan sedikit ilmu yang bisa di fahami karena kesalahan dari niat awal.
Kenaikan kelas tahun ajaran 1995/1996 yaitu naik ke kelas enam saya masih berada diperingkat pertama (tingkat satu), namun waktu duduk di kelas enam saya hanya berada di posisi 2 dan sempat turun ke tingkat empat di akhir masa sekolah di SD. Di kelas Enam ini kami sering di pukul pakai mistar kayu yang dimiringkan dan bagian yang dipukul adalah telapak tangan, karena pada saat itu belum ada UU perlindungan anak, maka guru kami tidak di polisikan, dan itu merupakan hal biasa pada saat itu. Hukuman pemukulan dilakukan guru ketika kami tidak mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) dan ketika tugas matematika kami salah.
Di saat saya kelas empat mau naik kelas lima, ada program beasiswa bagi orang krang mampu dan berprestasi dari beasiswa ini saya bisa beli sepeda yang harganya pada saat itu Rp. 180.000. Sepeda merek Mustang ini saya beli pada saat kelas lima uang hasil beasiswa. Kelas enam SD saya tetap dapat beasiswa meski tidak menduduki peringkat satu karena digeser oleh Nurhana pada saat itu, karena saya termasuk orang yang kurang mampu makanya saya tetap dapat beasiswa.
Setelah EBTA /EBTANAS saat itu tiba waktunya penulisan ijazah, pada saat itu saya ingin menambah nama saya didepannya dengan nama abd rahman, karena menurut guru ngaji saya yang di Tammangalle bahwa tidak boleh nama rahman itu berdiri sendiri karena itu nama Tuhan (Asma’ul husna) jadi harus di kasih abd, supaya kita tidak dikatakan sombong, namun karena guru kelas saya bilang sudah tidak bisa di ganti karena terlanjur di tulis dan tidak bisa dihapus, makanya namnya simpel saja yaitu rahman, dan bukan berarti ingin menandingi sang pencipta karena bagaimanapun saya hanya seorang hamba yang kecil dan hina dibandingkan dengan dzat yang Maha segala-galanya. Guru kelas ini juga yang merubah nama tempat kelahiran saya yang tadinya Paayumang menjadi Polewali Mamasa dengan alasan tidak ada yang tau itu Paayumang dan sekarang baru saya percaya karena sekarang alamat tempat lahir minimal nama kecamatan.
Sebenarnya banyak hal yang belum sempat saya ceritakan di saat duduk di sekolah dasar, namun karena keterbatasan pengingatan kembali maka hanya ini saja yang sempat saya uraikan dalam tulisan ini, dilain waktu saya akan mencoba mengingat dan akan mencatatnya kembali. Sekian dulu nanti kita sambung lagi di jenjang sekolah SMP. salam
Komentar
Posting Komentar