| Pertemuan Mahasiswa Stiper dengan Kepala Desa Perupuk |
Judul di atas bukanlah suatu hal yang berlebihan,mengapa saya mengatakan demikian karena pada saat ini, pesisir pantai sudah mulai tergerus, pohon bakau (kayu api-api) sebutan lokalnya sudah tak nampak lagi menghiasi bibir pantai.
Awal saya masuk (Tahun 1988)di Desa Perupuk (sekarang) dulunya masih berstatus dusun dan masuk wilayah Desa Tanjung Manis Kecamatan Sangkulirang Pohon Mangrove /bakau masih menghiasi bibir pantai dan masyrakat pada saat pasang panen ikan dengan menggunakan jala. Ikan-ikan yang terperangkap jala mayoritas ikan belanak.
Pada akhir tahun 2009 saya bersama teman-teman Mahasiswa Kelautan STIPER mengunjungi daerah tersebut,saya heran karena pohon bakau yang dulu lebat mungkin sekitar 15 M ketebalannya kini sudah tidak nampak lagi,yang ada hanya potongan batang kayu sisa-sisa orang menyenso (mungkin hasil pembalakan liar bahasa gaulnya sekarang.
bibir pantai mulai merambah ke perkebunan masyrakat yang mayoritas ditanami pohon kelapa dan bahkan jaraknya kepemukiman warga sekitar 200-300 M. Melihat kondisi itu kami berencana melakukan penanaman mangrove Modal Bantuan PT.KPC, namun karena terkendala masalah teknis dan juga butuh sokongan dana yang luar biasa berdasarkan kesepakatan maka kegiatan itu di alihkan ke Pantai Teluk Lombok Oleh Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Kelautan yang baru Saudara Masrin.
Namun saya sebagai putra daerah perupuk (merasa,karena daerah transit pertama kali menginjakkan kaki di pulau Borneo Tahun 1988) berkeinginan untuk mendorong pemerintah setempat untuk memperhatikan permasalahan ini. sehingga daerah pemukiman warga Desa Perupuk tidak hilang ditelan oleh ganasnya ombak musim selatan (musim Janda) dari arah pantai dan pengikisan daerah perkebunan (perusahaan sawit) dari daerah daratan rendah sampai pegununga.
Komentar
Posting Komentar