SEPENGGAL KISAHKU

Sebagai salah satu orang yang hidup dalam keluarga kurang sukses katai lain dari tidak mampu, namun ingin sesuatu yang orang bekecukupan miliki, saya rasa itu adalah hal yang lumrah (manusiawi)/salah satu fitrah dari manusia, hal itu pula yang saya miliki sebagai manusia.

Usiaku saat itu sudah beranjak dari anak-anak ke remaja sekitar 13 Tahun dan baru menyelesaikan Sekola di tingkat sekolah Dasar. Kebanyakan anak se usia saya memiliki kendaraan untuk di gunakan ke sekolah mulai dari sepeda yang di kayuh maupun sepeda yang digerakkan oleh mesin alias sepeda motor.
Keinginan untuk mengendarai sepeda motor merupakan hasrat yang tak bisa saya lawan, namun keadaan yang tidak memungkinkan sehingga harus kesekolah dengan menggunakan kaki alias on foot terkadang naik sepeda merek Mustang hasil beasiswa dari kelas IV-VI SD. Meski kondisi sepeda sudah mulai tidak bersahabat tetap digunakan.

Sebenarnya jarak kesekolah dengan rumah tidak begitu jauh mungkin sekitar -+ 2 KM makanya lebih sering jalan kaki sama teman-teman. Sebenarnya keinginan untuk bisa mengendarai motor selalu terbayang sehingga harus berusaha supaya keinginan itu terkabul.

Salah satu tetangga saya yang merupakan pengusaha (Pedagang Kambing) yang awalnya hanya berjualan di pasar Wonomulyo Polewali Mandar setiap Rabu dan Minggu selanjutnya menjadi pengekspor kambing ke Samarinda dan Balikpapan untuk memenuhi kebutuhan warung sate (Warung sate Pak Raden di Jalan Gunung Merbabu belakang Kantor Gubernur Kaltim).

H.Kannu namanya berasal dari Tammejarra yang beristrikan orang Paayumang Desa Balanipa yang bernama Hj.Jaorah. Mereka termasuk orang kaya dengan rumah yang besar terbuat dari Kayu Ulin. Saya pada saat itu masih Kelas VII SMP, selalu datang ke rumah beliau untuk menonton bersama teman-teman. Keseringan nonton TV sambil membantu mencuci motor yang pada saat itu masih baru Motor Yamah RX Spesial  keluaran 97 dengan harga 8 juta atau 11 jutaan (lupa harga sebenarnya).

Meski tidak disuruh untuk mencucikan motor saya tetap mencuci maklum lah kepingin naik motor hehehe, apa lagi sudah ada sedikit modal untuk mengendarai, soalnya sewaktu masih ngaji di Tammangalle sering belajar dengan orang dewasa yang punya motor yamaha Bebek 75 dengan syarat belikan bensin, meskipun harga bensin masih Rp.750 tapi terasa mahal bagi kami, dengan modal uang upah jualan es lilin semasa SD akhirnya bisa juga beli bensin untuk belajar mengendarai motor. selain itu juaga di ajari durus (Idrus) anak seorang kepala Sekolah yang juga merupakan tetangga, Kami sering diajar mengendarai motor Yamaha 100 milik bapaknya yang berkopling.

Seprti biasanya orang yang baru tahu akan sesuatu pasti timbul keinginan untuk terus melakukan apa yang baru dia ketahui nah itu pula yang saya alami istilahnya tidak bisa melihat motor yang stanbay selalu  ingin memakainya. Keinginan ini yang membuat kami selalu menonton di tempat H.Kannu.

Karena keseringan maka H.kannu pertama-tama mengajak saya ikut membantu mencarikan makanan kambing yang pada saat itu sudah memiliki langganan warung sate di samarinda yang setiap satu bulan sekali harus mengirimkan kambing super. Nama warung langganan H Kannu saat itu adalah warung sate pak Raden yang beralamat di jalan gunung merbabu belakang kanot Gubernur Kalimantan Timur

Komentar