I. PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Kabupaten Kutai Timur salah satu Kabupaten di Provinsi
Kalimantan Timur dengan Sangatta sebagai ibu kota Kabupaten,
secara geografis terletak antara 118o 58 19 -115o 58 26
BT dan antara 1o 52 39 - 0o
02 10 LU. Berbatasan dengan Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Berau
di utara, Selat Makassar di timur, Kabupaten Kutai Kartanegara di selatan dan barat.
Luas wilayah daerah ini 35.747,50 Km2. Kutai Timur adalah salah satu kabupaten pemekaran
dari Kabupaten Kutai yang memiliki panjang garis pantai 152 km dengan topografi pantai yang landai memiliki keanekaragaman
sumberdaya hayati laut dan tersebar dibeberapa Kecamatan pesisir ( Kec.
Sangatta Utara, Sangatta Selatan, Kec. Sangkulirang, Sandaran, Teluk Pandan,
Bengalon dan Kec. Kaliurang ).
Teluk Lombok merupakan daerah pesisir yang terletak di
Desa Sangkima Kecamatan Sangatta Selatan, daerah ini memiliki berbagai sumberdaya
alam hayati seperti ekosistem mangrove, terumbu karang, padang lamun dan berbagai
jenis euchinodermata berupa: bintang
laut, anemon laut, bulu babi dan yang menjadi objek penelitian yaitu teripang (Holothuridea).
Kordi ( 2009) menyatakan bahwa, tempat
hidup Teripang adalah perairan pantai, mulai dari daerah pasang surut
yang dangkal sampai perairan yang dalam. Beberapa kelompok hidup di daerah
berbatu yang dapat digunakan sebagai tempat persembunyian. Sedangkan yang lain hidup pada daerah yang
ditumbuhi rumput laut, lamun atau daerah berpasir, ada pula yang membuat lubang
di lumpur dan pasir. Teripang hidup pada kedalaman 1 - 40 m.
Belum adanya informasi yang jelas tentang penyebaran dan
distribusi serta dominansi jenis
teripang yang hidup di pantai Teluk Lombok yang
melatar belakangi peneliti
untuk
meneliti distribusi, kepadatan
serta dominansi teripang
yang hidup di daerah pantai Teluk Lombok. Diharapkan dengan
adanya informasi tentang distribusi,
kepadatan serta dominansi jenis teripang di pantai Teluk Lombok
memudahkan masyarakat untuk melakukan
penangkapan.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1.
Untuk
mengetahui distribusi teripang di Pantai Teluk Lombok.
2.
Untuk
mengetahui kepadatan teripang di Pantai Teluk Lombok.
3.
Untuk mengetahui dominasi teripang di Pantai Teluk
Lombok.
1.3. Manfaat
Dari penelitian ini diharapkan dapat
memberikan manfaat antara lain:
1.
Adanya
informasi tentang distribusi, Kepadatan serta dominasi teripang di Pantai Teluk
Lombok.
2. Serta sebagai bahan informasi
bagi Mahasiswa dalam melakukan penelitian lanjutan tentang teripang dan sebagai
informasi bagi instansi swasta dan pemerintah dalam perluasan wilayah budidaya
pesisir.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengenalan Teripang
Martoyo
(2007), menyatakan bahwa
teripang merupakan
salah satu
anggota hewan
berkulit duri,
yang
memiliki tubuh yang lunak,
berdaging dan
berbentuk silindris memanjang
seperti ketimun.
Teripang merupakan
hewan
yang berduri atau berbintil
pada kulitnya yang hidup di daerah pantai
terutama pada
daerah terumbu
karang
(Kordi, 2009).
2.2. Morfologi dan Taksonomi Teripang
1.
Morfologi
Teripang
Stichopus variegatus Teripang pasir
Sumber
: Suryanti. 2011
Gambar 1. Morfologi Stichopus variegatus dan Teripang Pasir
2. Taksonomi Teripang
Martoyo
(2007), mengklasifikasikan teripang sebagai berikut:
Fillum : Echinodermata
Sub-filum: Echinozoa
Klass: Holothuroidea
Sub-Klas: Aspidochirotacea
Ordo: Aspidochirotda
Famili : Holothuridae
Genus :
1.
Holothuria
Spesies:
Holothuria argus
: Holothuria vacabunda
: Holothuria impatiens
: Holothuria scabra
: Holothuria marmorata
: Holothuria edulis
2. Muelleria
Spesies: Muelleria
lecanora
3. Stichopus
Spesies: Stichopus ananas
:
Stichopus cholonaratus
: Stichopus
variegates
WoMRS (2011), memberikan
klasifikasi untuk
Holothuria leucospilota, seperti yang tercantum di bawah ini
Superdomain: Biota
Kingdom: Animalia
Phylum: Echinodermata
Subphylum: Echinozoa
Clas: Holothuroidea
Order: Aspidochirotida
Family: Holothuriidae
Genus: Holothuria
Subgenus: Holothuria
(Mertensiothuria)
Species: Holothuria
(Mertensiothuria) leucospilota.
Teripang Actinopyga
echinites diklasifikasikan oleh WoRMS ( 2011) seperti yang tertera di bawah ini.
Superdomain: Biota
Kingdom: Animalia
Phylum: Echinodermata
Subphylum: Echinozoa
Clas: Holothuroidea
Order: Aspidochirotida
Family: Holothuriidae
Genus: Actinopyga
Species: Actinopyga
echinites
Karakteristik Teripang
Mulyani dkk (2009), menyatakan bahwa tubuh Holothuroidea lunak, berbentuk bulat panjang, terlindung atas
osikel yang amat halus dan tidak mempunyai lengan. Lekuk ambulakral
tertutup tidak terdapat madreporit eksternal. Kaki tabung termodifikasi menjadi
tentakel oral, kaki tabung dengan atau tanpa penghisap. Skeleton terdiri atas
osikel kecil, tanpa spina dan pediselaria. Holothuroidea memiliki daya regenerasi yang tinggi. Pada
ujung anterior terdapat mulut dikelilingi sepuluh sampai tiga puluh buah
tentakel. Fungsi tentakel ini dapat disamakan dengan kaki tabung bagian oral echinodermata. Seperti echinodermata lainnya, maka sistem
vaskular air holothurian terdiri dari sebuah cincin anterior kanal dari
kanal yang timbul selama menjalankan posterior meskipun kesamaan dengan kanal
radial echinodermata lainnya, struktur terakhir ini muncul
embriologis dalam cara yang sangat berbeda.
Birowo (1973)
dalam Fransiskus (1996),
menyatakan bahwa bangsa teripang (Holothuroidea) mempunyai bentuk tubuh memanjang, hampir silindris, beberapa kelompok ada yang berbentuk U, berbentuk kumparan, memipih atau silindris. Ukuran panjang ada
yang mencapai 50 cm dan ada yang hanya beberapa centimeter. Azis
dkk (1994) dalam Fransiskus
(1996), menyatakan bahwa kelompok teripang adalah pemakan
detritus dan kandungan organik dalam pasir/lumpur.
Dikomunitas padang lamun, detritus ini terutama disumbangkan oleh proses
pembusukan daun lamun. Sutaman (1993) dalam Fransiskus (1996), menyatakan bahwa umumnya teripang adalah pemakan deposit pasir yang
penting didaerah terumbu karang. Pawson 1976 dalam Fransiskus (1996) teripang dapat memanfaatkan
tiga sumber makanan yaitu; plankton, detritus, dan material organik yang terkandung dalam
subtrat.
2.4. Distribusi dan Habitat Teripang
Aziz (1997), menyatakan bahwa habitat
atau tempat hidup teripang adalah ekosistem terumbu karang dan ekosistem lamun,
mulai dari zona intertidal sampai ke dalaman 20 meter. Pada umumnya teripang
menyukai perairan yang bersih dan jernih dengan salinitas laut normal sekitar 30 - 33 o/oo, dasar
berpasir halus dengan tanaman pelindung (jenis-jenis lamun), terlindung dari hempasan gelombang dan
lingkungan hidupnya kaya akan kandungan
detritus (pembusukan lamun dan algae)
Aziz (1995), menyatakan bahwa teripang
dari suku Holothuridae dan stichopodidae bisa menempati
segala macam tipe dasar (subtrat), seperti lumpur, lumpur pasiran, pasir, kerikil,
pantai berbatu, karang mati,
pecahan karang (rubles), dan bongkahan karang (boulders). Dengan
kemampuan adaptasi yang baik
teripang bisa menempati berbagai macam
tipe dasar.
Teripang adalah hewan yang bergerak
lambat, habitat di lautan hidup pada dasar substrat pasir, lumpur
pasiran maupun dalam lingkungan terumbu. Hewan ini ditemukan di hampir semua lingkungan
laut, tetapi yang paling beragam di perairan dangkal tropis terumbu karang. Teripang
merupakan komponen penting dalam rantai makanan di terumbu karang dan ekosistem
asosiasinya pada berbagai tingkat struktur pakan (trophic levels). Teripang berperan penting sebagai
pemakan deposit (deposit feeder) dan
pemakan suspensi (suspensi feeder). Di wilayah Indo-Pasifik, pada daerah terumbu yang tidak mengalami tekanan eksploitasi, kepadatan teripang bisa lebih dari 35 ekor per m2,
dimana setiap individunya bisa memproses 80 gram berat kering sedimen setiap harinya. Beberapa
spesies teripang yang mempunyai nilai ekonomis penting diantaranya: teripang
putih (Holothuria scabra), Teripang Koro
(Microthele nobelis), Teripang Pandan (Theenota
ananas), Teripang Dongnga (Stichopu
ssp) dan beberapa jenis teripang lainnya (Mulyani
dkk, 2009).
Kordi (2009), menyatakan
bahwa tempat hidup teripang adalah perairan pantai, mulai dari daerah
pasang surut yang dangkal sampai perairan yang dalam. Beberapa kelompok hidup
di daerah berbatu yang dapat digunakan sebagai tempat persembunyian.
Sedangkan yang lain hidup pada daerah
yang ditumbuhi rumput laut, lamun atau daerah berpasir, ada pula yang membuat lubang di lumpur dan pasir. Teripang hidup
pada ke dalaman 1 m sampai dengan 40
meter.
Purwati ( 1988 ) dalam Yuana ( 2002 ), menunjukan penyebaran teripang berdasarkan habitatnya menempati daerah-daerah tertentu di perairan seperti :
a.
Daerah rataan
pasir yang berbatasan dengan daerah pertumbuhan
algae, terdapat sedikit Holothuria. Daerah
ini relatif miskin dibandingkan habitat lain.
b. Daerah ilalang laut , di
antara Enhalus ditemukan Holothuria
atra, H. Arenicola, H. Nobilis dan H. Scabra.
c.
Daerah pertumbuhan algae, terutama ditempati oleh Holothuria atra, H. Arenicola, H edulis, H. Nobilis dan Stichopus variegatus.
d. Daerah
tubir, dijumpai Holothuria atra, H.
Coluber, stichopus variegatus, S. Choloronatus dan
Thelenota ananas.
Distribusi teripang pada suatu tempat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu ketersediaan
makanan dan musim. Beberapa jenis teripang bergerak mendekati garis pantai
selama musim memijah karena ketersediaan
makanan di dekat garis pantai tersebut diperlukan selama proses memijah
(wirasti, 1990) dalam (Yuana, 2002).
Lebih lanjut Wirasti (1990) dalam
Yuana (2002), menyatakan bahwa distribusi dari teripang juga dipengaruhi oleh daya
adaptasinya terhadap perubahan kondisi lingkungan yang ekstrim. Misalnya salinitas lingkungan perairan di luar kisaran
normal dari teripang, karena teripang merupakan organisme yang tidak toleran
terhadap salinitas rendah. Teripang (Holothuroidea)
banyak ditemukan di perairan pantai pada semua ketinggian di daerah pantai,
mulai dari daerah tepi pantai Sampai laut dengan kedalaman besar, untuk
hidupnya, teripang menyukai perairan jernih dan airnya relatif tenang.
2.5. Biologi Teripang
Uly (1998), menyatakan bahwa kalau
dilihat susunan tubuh teripang, maka dibelakang mulut terdapat sebuah cincin kapur yang mengelilingi oesophagus, terdiri dari potongan - potongan berjumlah
10-18 buah, lebih lanjut dikatakan bahwa
cincin kapur tersebut berfungsi untuk menguatkan leher, cincin saraf, tempat
menyimpan air dan sebagai dasar penempatan otot panjang (Longitudinal). Di belakang cincin kapur ini terdapat cincin
air yang merupakan pusat dari sistem sirkulasi air dalam tubuh.
Bangsa teripang (holothuridea) mempunyai bentuk tubuh memanjang
hampir silindris. Beberapa kelompok ada yang tubuhnya berbentuk
U, berbentuk kumparan, memipih atau silindris Fransiskus (1996), lebih lanjut dinyatakan bahwa genus Holothuria dapat
mencapai panjang sampai 600 mm dan berat
2400 gram. Aryono (1987) dalam Fransiskus (1996), menyatakan bahwa rata-rata
panjang H. vagabunda adalah 296,4 mm dan rata-rata beratnya 992,14 gram. Birowo
(1973) dalam Fransiskus (1996) menyatakan bahwa tubuh teripang
lembek, berotot melingkar dan memanjang yang terletak dibawah dinding tubuhnya.
Saluran alat pencernaan berkelok-kelok
menuju duburnya. Mulyani
dkk (2009), menyatakan bahwa dinding tubuh Holothuroidea tertutup oleh epidermis yang umumnya bersilia. Di sebelah luar epidermis yang tidak
bersilia sering dilapisi
lapisan kutikula. Di sebelah dalam epidermis terdapat otot memenjang dan melingkar yang memungkinkan
tubuh teripang dapat memanjang dan memendek seperti cacing tanah. Kerangka terletak pada internal dan terdiri
atas spikula kapur mirip batang, roda ataupun jangkar. Mulut di ujung
dikelilingi oleh tentakel yang berfungsi menggumpalkan makanan (diduga kaki tabung yang sudah bermodifikasi).
Tubuh teripang sebagian besar terdiri
dari jaringan ikat yang dapat berubah dengan cepat
dari lembut menjadi
keras.
Jaringan ini berkembang dengan baik dengan lapisan otot (dapat memanjang) membantu mereka untuk bergerak
mengalir ke tempat-tempat sempit untuk menyembunyikan diri dari predator yang bisa memangsa diri mereka. Mereka juga
memiliki ossicles (potongan keras
kalsium karbonat), tetapi berupa mikroskopis yang bisa berubah
dan didistribusikan secara luas di jaringan ikat. Dalam
beberapa teripang, mereka dapat memberikan
ossicles pada tekstur kulit yang kaku dan kasar. Ossicles timun laut yang halus dan menakjubkan digunakan untuk mengidentifikasi
spesies timun laut (Mulyani
dkk, 2009). Winanto (1994) dalam Yuana (2002),
menyatakan bahwa teripang merupakan salah satu anggota hewan berkulit duri (Echinodermata).
Tubuh teripang lunak, berdaging, dan bentuknya silindris memanjang seperti buah mentimun.
Barnes (1980) dalam Yuana (2002), menyatakan bahwa warna dari teripang biasanya
sangat berguna sebagai petunjuk untuk menentukan jenis teripang. Bentuk kaki tabung biasanya dijumpai dan digunakan sebagai alat untuk
melekat pada subtrat, tetapi strukturnya terbatas dan kadang-kadang
termodifikasi atau bahkan tidak ada sama sekali. Tubuh teripang biasanya tidak
licin tetapi terdapat tonjolan – tonjolan
kecil di sepanjang tubuh yang jumlahnya banyak atau sedikit tersebar di seluruh permukaan tubuh.
2.6. Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan
makanan teripang dimulai dari mulut, kemudian melalui cincin kapur dan cincin
air makanan masuk ke dalam kerongkongan, ke lambung, ke usus dan berakhir di
anus. Panjang usus teripang bisa
mencapai 2 atau 3 bahkan lebih dari panjang tubuhnya yang melingkar- lingkar dalam tubuh (Uly, 1998).
Mulyani dkk (2009), menyatakan
bahwa alat pencernaan teripang terdiri
atas esophagus, lambung, usus yang cukup panjang dan berakhir pada usus di kloaka. Zat-zat makanan hasil pencernaan
diserap oleh usus dan diedarkan oleh sel-sel amebosit yang terdapat pada cairan
tubuhnya sistem pembuluh airnya terdiri atas madreporit, saluran cincin yang mengelilingi esophagus dan saluran radial yang berhubungan dengan bagian ampula
sepanjang lapisan otot.
2.7. Sistem Reproduksi
Uly (1998), menyatakan bahwa teripang
pada umumnya terdiri dari jantan dan
betina, tetapi tidak dapat dibedakan secara morfologi. Teripang memijah pada sore dan malam hari, pembuahan teripang terjadi di dalam air dengan cara, pertama
teripang jantan akan melepaskan spermanya kemudian teripang betina meletakkan
telurnya. Untuk jenis teripang yang hermaprodit sperma dan telur tidak dilepaskan secara bersamaan,
tetapi dengan selang waktu 1 sampai 2 hari
dan rata- rata pemijahan berlangsung 30
menit, walaupun ada juga yang berlangsung 15 menit – 4 jam.
Teripang berkembang biak secara
kawin dan berkelamin terpisah. Gonadnya berbentuk seperti sikat dilengkapi
saluran-saluran halus yang dihubungkan dengan saluran kelamin yang terletak
dekat tentakel. Pembuahannya bersifat eksternal. Telur yang telah dibuahi setelah
menetas akan menghasilkan larva yang disebut aurikularia. Alat reproduksi terdiri atas jumbai filamen yang
bermuara ke saluran genital ( Mulyani dkk, 2009).
Sebagian besar teripang
memiliki jenis kelamin
terpisah baik jantan atau betina. Organ reproduksi mereka di
dekat bagian depan tubuh mereka. Kebanyakan spesies, sperma dan sel telur dilepaskan secara bersamaan
untuk fertilisasi eksternal. Beberapa pemijahan teripang yang meningkatkan
dalam kobra seperti postur ketika merilis telur dan sperma.
Peneliti menyarankan agar pemijahan
disinkronisasikan lebih dari satu spesies untuk dilakukan pemijahan secara bersama-sama.
Teripang mengalami proses metamorfosis dari larva menjadi seperti bentuk
dewasa. Bentuk larva menetas dari telur bilateral simetris dan bebas berenang,
melayang dengan plankton, dan akhirnya berkembang menjadi teripang kecil ( Mulyani dkk, 2009).
2.8. Sistem Pernapasan
Sebuah ciri khas beberapa teripang
adalah sistem pernapasan internal percabangan tabung sepanjang tubuh mereka. Pernafasan teripang yang disebut pohon ini yang
paling besar memiliki sepasang alat pernapasan tersebut masing-masing terhubung
dari depan ke bagian belakang. Untuk bernapas,
mentimun laut memompa air melalui
bagian belakang dan naik melalui pohon pernapasan. Air itu kemudian
mengalir keluar melalui bagian belakang lagi.
Dengan ini air terus mengalir,
beberapa makhluk kecil ditemukan termasuk kepiting dan kacang polong Pearlfish berada dibelakang
seekor seacucumber dengan nyaman dan aman. Namun beberapa teripang kecil hanya bernapas melalui kulit (
Mulyani dkk, 2009).
Uly (1998), menyatakan
bahwa teripang memiliki dinding tubuh yang tipis, pernapasan dilakukan dengan seluruh permukaan tubuhnya, sedangkan yang memiliki dinding tubuh yang tebal
dilakukan dengan bantuan alat pernapasan yang berbentuk pohon bercabang-
cabang yang disebut respiratory tree . Oksigen dalam air diisap melalui anus dan
didorong ke dalam respiratory tree kemudian
di keluarkan kembali melalui anus pula, hal ini terjadi beberapa kali dalam 1 menit.
2.9. Jenis Teripang Yang Bernilai
Ekonomis
Kordi
(2010), menyatakan bahwa di Indonesia diperkirakan hidup 257 spesies
teripang, tetapi yang telah diketahui baru 60
spesies. Dari 60 spesies itu, baru 23
spesies yang sudah dieksploitasi dan umumnya dikonsumsi. Dari 23 spesies tersebut hanya 5
spesies yang paling dicari oleh masyarakat yaitu:
2. 9.1 Teripang pasir
Teripang
pasir (Holothuria scraba) memiliki
bentuk badan yang bulat (buntek) dengan panjang sekitar 30 cm. Warna punggungnya
abu- abu sampai agak kehitaman, dengan garis- garis melintang dan diantara
garis-garis itu terdapat warna putih, dengan warna bagian
perut berwarna kuning keputih- putihan dengan bercak-
bercak hitam kecil. Permukaan kulit kasar bila diraba, teripang ini hidup
sendiri- sendiri di antara karang dan perairan yang bagian dasarnya berupa
pasir halus.
2.9.2 Teripang Lotong
(Holothuria nobilis)
Teripang lotong mempunyai
bentuk seperti tabung dan berkulit tebal. Warnanya hitam, hitam
kecoklatan. Begitu pula bagian perutnya. Panjang sekitar 25 cm. Duburnya berbentuk bintang berwarna kuning.
Jenis ini banyak terdapat di daerah
pasang surut Indonesia bagian barat. Teripang hitam
hidup di daerah perairan berkarang atau berpasir yang ditumbuhi ilalang laut atau sea
grass (Martoyo, 2007).
2.9.3. Teripang Getah (Holothuria
vocabunda)
Teripang getah atau teripang keeling mempunyai tubuh berbentuk bulat, panjang dan langsing.
Panjang badan antara 20-30 cm. Warna badan
coklat muda atau coklat tua. Pada bagian
mulut terdapat rumbai-rumbai pendek yang menyerupai
kembang kol. Getah yang dikeluarkan apabila ditangkap seperti getah karet yang berfungsi sebagai alat membela diri. Jenis ini belum banyak diperdagangkan.
2.9.4. Teripang coklat (olok-olok)
Teripang
Coklat (Holothuria mammorata). Memiliki
badan berbentuk bulat panjang dan kecil. Warna teripang ini cukup
variatif, ada yang berwarna coklat kuning dan ada yang
berwarna coklat pekat. Namun pada umumnya memiliki warna abu-abu kecoklatan. Badannya tertutup oleh tonjolan menyerupai duri yang berbentuk kerucut dan
berwarna kuning muda.
2.9.5. Teripang Darah (Holothuria atra)
Teripang darah memiliki tubuh yang langsing memanjang, berwarna hitam
dengan tentakel kekuning- kuningan
panjang 15-20 cm, jenis ini hidup di
daerah berpasir atau di antara karang yang tertutup pasir.
2.9.6. Teripang Nanas (Sticopuss
ananas).
Teripang
nanas mempunyai tubuh berwarna coklat dengan
duri kuning jingga. Setelah tua durinya berubah bentuk menjadi bulatan-bulatan
yang tersebar sekitar 3-5 duri membentuk
bulatan dengan bentangan teratur mirip buah nanas sehingga teripang ini sering
disebut Teripang Nanas. Teripang ini banyak
hidup dibagian timur Indonesia terutama di perairan dangkal dan tenang.
2.10. Manfaat Teripang
Teripang adalah komoditas penting karena hewan ini
dikonsumsi oleh berbagai kelas sosial masyarakat dunia.
Cina merupakan negara yang telah
lama memanfaatkan teripang untuk dijadikan hidangan istimewa pada perayaan, pesta dan hari - hari besar (Kordi, 2010).
Beberapa manfaat teripang diantaranya :
2.10.1. Teripang sebagai
Bahan Pangan
Kordi (2010), menyatakan bahwa sebagai bahan pangan
teripang mempunyai nilai gizi yang tinggi dan rasanya sangat lezat, teripang
memiliki kadar protein yang tinggi yaitu 82% dengan kandungan asam amino yang
lengkap seperti omega 3 yang penting untuk
kesehatan jantung. Teripang dapat diolah menjadi makanan dalam berbagai bentuk
seperti; teripang kering, teripang beku, usus, asin, dan daging teripang kaleng.
2.10.2. Teripang Sebagai Obat
Selain sebagai
obat teripang juga digunakan sebagai obat dalam penelitian farmakologi dan
kedokteran modern membuktikan bahwa teripang adalah obat yang berhasiat.
Penelitian Hasan dari Universitas Malaya menggunakan teripang untuk menyembuhkan
luka karena mengandung
CGF (Cell Growth Factor) yang dapat
menstimulus regenerasi sel sehingga mempercepat penyembuhan luka (Kordi, 2010).
Sebuah hasil
penelitian menemukan bahwa teripang spesies Holothuria
atra, H. scabra memiliki efek anti bakteri karena dapat menghambat
pertumbuhan bakteri Streptococcus
faecalis penyebab pembengkakan lapisan dalam jantung. Teripang juga dapat
memperkokoh tulang
dan sendi karena mengandung 86% protein
yang mudah diuraikan oleh enzim pepsin, selain itu teripang
juga mengandung kondroitin sulfat yang mampu mengurangi rasa sakit
akibat radang sendi (Kordi,
2010).
2.11. Distribusi dan Kelimpahan
Purnomo
dkk (1994) dalam Fransiskus ( 1996), mengatakan
bahwa disribusi atau penyebaran dapat dianggap sebagai suatu bidang dalam
kelimpahan. Distribusi dan kelimpahan mempunyai hubungan timbal balik, seakan-
akan seperti bidang bersebelahan dari suatu mata uang.
Distribusi teripang
dipengaruhi oleh topografi dan tingkat kekeringan dari rataan terumbu karang. Darsono dkk (1998), menyatakan bahwa teripang
ditemukan pada habitat selalu berada dibawah garis surut terendah. Habitat dengan dasar pasir karang yang sebagian
ditumbuhi lamun (sea grass : Enhalus, dsb) merupakan tempat hidup teripang.
Lawrence (1979)
dalam Darsono dkk (1998), menyatakan bahwa densitas
yang cukup besar, berkisar 12- 546 individu/m2, jenis teripang yang ditemukan di daerah rataan terumbu Enewetak Atoll, Marshal Island.
2.12. Nilai Ekonomis Teripang
Sebagai salah
satu sumberdaya hayati laut yang potensial, teripang banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan
secara langsung dengan pengolahan sederhana maupun proses yang lebih panjang
melalui pengeringan, pembekuan, pembuatan
tepung dan diolah menjadi kerupuk teripang dengan nilai gizi yang tinggi (Hartati, 1996).
Teripang
merupakan komiditi ekspor yang penting
ke Negara-negara Eropa, Jepang dan Amerika.
Yusron (2004), menyatakan bahwa harga teripang berkisar antara Rp.50.000 – Rp.650.000- /Kg berat kering,
bergantung jenis dan ukuran dan kualitas
pengolahannya.
2.13. Kondisi Fisik – Kimia Perairan Pantai
Wilayah pantai atau pesisir adalah
daerah pertemuan antara darat dan laut, ke arah darat wilaya pesisir meliputi
bagian daratan baik kering ataupun terendam air yang masih dipengaruhi oleh
sifat-sifat air laut, seperti pasang surut, angin laut dan perembesan air laut/asin. Sedangkan ke arah laut wilyah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi
proses alami yang terjadi di darat, seperti sedimentasi dan aliran air tawar
maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan
hutan dan pencemaran. Sunaryono, dkk.
(1980) dalam Fransiskus ( 1996).
2.13.1. Salinitas
Nybakken ( 1988) dalam Fransiskus (1996), menyatakan
bahwa salinitas merupakan ukuran yang biasa dipakai untuk menytakan
dalam satuan per mil (0/00).
Salinitas dapat didefinisikan sebagai jumlah total bahan padat dalam garam yang
terlarut dalam 1 Kg air laut dengan catatan bahwa semua karbohidrat telah berubah menjadi oksida, kemudian bromide dan iodida
dianggap sebagai klorida dan semua bahan organik telah teroksidasi. Setiap spesies
memiliki toleransi yang berbeda terhadap
salinitas, tergantung pada kemampuan spesies tersebut mengendalikan tekanan osmotik yang terjadi di
dalam jaringan tubuhnya. Menurut Pawson
(1976) dalam Fransiskus (1996) Holothuria dapat menyesuaikan diri pada
salinitas 30 – 37 0/00.
Holothuridae hidup di
daerah yang memiliki salinitas yang normal dan tidak dapat mentolerir salinitas
yang rendah, Boolootian (1996) dalam Hartati (1996). Selanjutnya
Aryono
(1987) dalam Hartati (1996), menjelaskan bahwa spesies teripang yang hidup
di daerah karang dapat mentolerir
salinitas 30 -
37 ‰.
2.13.2. Temperatur /Suhu
Suhu adalah ukuran
energi gerakan
molekul. Di lautan suhu bervariasi secara horizontal
sesuai dengan garis lintang dan secara vertikal sesuai dengan ke dalaman. Suhu massa air permukaan di wilayah tropik
berkisar antara 20 – 30 oC. Di
bawah air permukaan yang hangat, suhu mulai menurun, dan mengalami penurunan yang sangat cepat pada kisaran
kedalaman yang sempit yaitu antara 50-
300 meter.
Bakus (1973)
dalam
Hartati (1996) Holothuria ditemukan
di semua kedalaman dan di semua laut sehingga dapat disimpulkan bahwa mereka mempunyai
toleransi pada kisaran temperatur yang
luas yakni 28-30 oC dan menjadi imotil
pada suhu 36 oC.
2.13.3. Cahaya.
Hartati
(1996), menyatakan bahwa umumnya Holothuria
bersifat nokturnal di mana mereka aktif mencari makan pada malam hari dan
menyembunyikan diri pada siang hari. Reaksi terhadap perubahan
intensitas cahaya adalah bervariasi. Terhadap penerangan yang
tiba-tiba, beberapa spesies bereaksi bergerak
menjauh atau berpindah.
2.13.4.
Derajat Keasaman (pH)
Nybakken (1988)
dalam Fransiskus (1996), derajat keasaman
(pH) adalah ukuran untuk menentukan sifat asam atau basa air laut. Air laut
memiliki daya penahan (buffer) yang cukup kuat mencegah perubahan – perubahab pH. Perubahan
pH sangat berpengaruh terhadap proses kimia maupun biologis dari jasad hidup
yang berada dalam perairan.
5. Makanan
Boolootian (1966)
dalam Hartati (1996), menyatakan
bahwa Holothuria memiliki kecendrungan hidup bergerombol pada
suatu areal yang memiliki kandungan material organik pada sedimen dasar cukup tinggi. Makanan dari teripang yaitu plankton, detritus dan
kandungan organik yang ada dalam lumpur atau pasir. Makanan teripang dewasa yang paling utama adalah detritus
dan kandungan zat organik yang ada dalam pasir,
sedangkan plankton, bakteri, dan biota mikroskopis lainnya adalah sebagai
makanan pelengkap (Yusron, 1990).
III.
METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian
ini telah dilaksanakan
selama dua bulan yaitu pada bulan Juni sampai bulan Juli 2011, bertempat
di kawasan pesisir pantai Teluk Lombok Kecamatan Sangatta Selatan Kabupaten Kutai Timur.
3.2. Alat dan Bahan
Alat
yang di gunakan dalam penelitian ini seperti yang tertera pada tabel di bawah
ini;
Tabel 1. Alat yang digunakan selama penelitian
|
No
|
Nama Alat
|
Jumlah
|
Keterangan
|
|
1
|
Tali
|
300 m
|
Membuat 3 garis Transek
|
|
2
|
Handrefraktometer
|
1 set
|
Mengukur salinitas
|
|
3
|
GPS
|
1 set
|
Menentukan Lokasi Peneltian
|
|
4
|
Kertas Lakmus
|
1 Unit
|
Mengukur pH
|
|
5
|
Buku Identifikasi
|
1 Buah
|
Untuk identifikasi
|
|
6
|
Kamera
|
1 Unit
|
Untuk Dokumentasi
|
|
7
|
Komputer
|
1 Unit
|
Untuk in-put
|
Sedangkan
bahan yang digunakan selama penelitian tertera pada tabel 2 berikut ini :
Tabel
2. Bahan yang digunakan selama penelitian
|
No
|
Nama Bahan
|
Jumlah
|
Keterangan
|
|
1
|
Teripang
|
|
Objek Penelitian
|
|
2
|
Peta Lokasi Penelitian
|
1 Unit
|
Untuk mengetahui Lokasi secara
administratif
|
3.3. Alur Penelitian
Skripsi
Gambar 2. Alur Penelitian
3.4. Prosedur Penelitian
Pada lokasi penelitian ditarik
3 buah garis transek
dengan panjang 100 meter dengan
menggunakan transek kwadran yang berukuran 1 meter x 1 meter yang dipasang secara zig- zag dengan jarak tiap
transek 10 m. Teripang yang berada dalam kwadran
transek dihitung jumlah individunya.
Nama jenis teripang diidentifikasi menurut buku ( WoMRS,
2011 ).
|
1 x 1 m
|
|
1 x 1 m
|
|
1 x 1 m
|
|
1 x 1 m
|
|
1 x 1 m
|
|
1 x 1 m
|
|
1 x 1 m
|
|
1 x 1 m
|
|
1 x 1 m
|
|
1 x 1 m
|
|
1 x 1 m
|
Bibir Pantai 100 M Ke Arah Laut
Gambar 3. Contoh pemasangan Garis Transek
3.5. Analisis Data
Analisis data
hasil pengamatan dilakukan secara
deskriptif. Metode yang digunakan adalah
metode transek, selain itu dilakukan pengamatan beberapa faktor abiotik
yaitu ; suhu, salinitas, pH, kecerahan yang diamati
bersamaan dengan pengambilan data dengan menggunakan termometer, Handrefraktometer
dan kertas lakmus.
Evaluasi data faktor abiotik dilakukan secara deskriptif sesuai dengan
kelayakan hidup teripang. Frekuensi kehadiran dan kepadatan teripang dihitung berdasarkan
yusron (2007) yaitu :
Jumlah titik transek dimana jenis A
terdapat
Jumlah
seluruh titik transek
Total
individu setiap jenis
Jumlah
petakan seluruh pengamatan
yang digunakan untuk mengetahui dominansi jenis (dj)
adalah metoda yang dikembangkan oleh Saito et all
(1984 ) dalam Radjab
(
2001)
dj = c . f,
dimana :
f = frekuensi jenis
c = persentase
kepadatan total ( berat jenis teripang “i” berat total individu)
Tabel yang digunakan dari hasil pengolahan data adalah seperti
yang tertera dibawah ini :
Tabel 3.
Contoh table hasil pengolahan data
|
No
|
Familia/species
|
Frek %
|
Kpdt ind/m2
|
Dominansi %
|
|
1.
|
Holothuridea
|
-
|
-
|
-
|
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Gambar 4. Peta Lokasi
Penelitian
Pantai Teluk
Lombok terletak pada 00 29’
44’’ LU dan 1170 36’43’’ BT.
Secara administrasi Teluk Lombok masuk dalam wilayah Desa Sangkima Kecamatan Sangatta Selatan Kabupaten Kutai
Timur yang berbatasan langsung dengan
:
Sebelah utara : Taman Nasional Kutai
Sebelah Selatan : Teluk Pandan
Sebelah Timur : Selat Makassar
Sebelah Barat : Desa Sangkima
Menurut
data BPS Kutai Timur (2006), penduduk yang
mendiami Dusun Teluk Lombok Desa
Sangkima yaitu sebanyak 511 orang Laki-laki dan 468 orang Perempuan yang terdiri dari 210 Kepala keluarga.
Pantai Teluk
Lombok yang memiliki jarak ±20 Km dari pusat pemerintahan Kabupaten Kutai Timur
yaitu kota Sangatta dapat ditempuh dalam waktu ± 1 jam dengan menggunakan
kendaraan bermotor. Untuk mencapai Pantai Wisata Teluk Lombok tidak begitu sulit karena jalur transportasi
darat sudah bagus kecuali pada musim hujan karena tekstur jalan masih tahap
pengerasan sehingga kondisi jalan pada musim hujan akan licin sehingga berbahaya
bagi para pengguna jalan (Simeon, 2008).
Sebagian besar penduduk Pantai Teluk Lombok merupakan pendatang
dari sulawesi barat
yaitu suku mandar Polewali dan Mamuju yang bermata pencaharian sebagai nelayan, dan juga sebagi penjual
makanan dan minuman, karena Pantai Teluk Lombok ramai dikunjungi oleh
masyarakat untuk kegiatan rekreasi, mancing
dan penelitian bagi para mahasiswa.
4.2. Hasil Pengamatan Parameter Kualitas Air Teluk Lombok
Adapun hasil penelitian parameter kualitasair Pantai Teluk Lombok adalah
seperti yang tertera pada table berikut ini :
Tabel 4. Parameter Kualitas
Air Pantai Teluk Lombok
|
No
|
Stasiun
|
Parameter
|
||
|
pH
|
Suhu (0C)
|
Salinitas(‰)
|
||
|
1
|
I
|
8
|
34
|
35
|
|
2
|
II
|
9
|
33
|
37
|
|
3
|
III
|
8
|
40
|
34
|
Pengamatan parameter kuaitas air yang diperoleh pada
saat dilakukan pengukuran adalah sebagai berikut.
4.2.1. Suhu
Hasil pengukuran
suhu air laut pada daerah pasang surut di pantai Desa Sangkimah Dusun Teluk Lombok Kabupaten
kutai Timur dengan menggunakan
termometer dapat dilihat pada tabel 4 yang menunjukan suhu pada derah
pasang surut berkisar antara 33-40 0C. Pada stasiun 1 suhu yang
diperoleh adalah 340C. Suhu air laut terus mengalami peningkatan dan
kecenderungan kenaikan suhu pada daerah pasang surut dipengaruhi oleh penetrasi
sinar matahari yang kuat.
Penelitian
Radjab (2000) di perairan kepulauan Padaido Biak, Irian Jaya pada pengukuran suhu memperoleh 30 - 32 oC. Menurut Bakus
(1973) dalam Hartati (1996) Holothuria ditemukan disemua ke
dalaman dan disemua laut sehingga dapat
disimpulkan bahwa
mereka mempunyai toleransi pada kisaran
temperatur yang luas
yakni
28 – 30 oC dan menjadi imotil pada suhu 36oC,
namun tentakel masih bergerak pada suhu 40 oC.
Jika
dibandingkan dengan pengamatan suhu di Pantai Teluk Lombok
diperoleh kisaran suhu 340C, dengan demikian maka, di
Pantai Teluk Lombok masih sesuai untuk
kehidupan teripang. Anonim (1989) dalam
Radjab (2000) di perairan Sulawesi Tenggara kondisi air laut yang sesuai
untuk pertumbuhan
teripang adalah suhu antara, 26 - 32 oC.
4.2.2. Salinitas
Hasil pengukuran
Salinitas pada daerah pasang surut pantai Teluk Lombok kecamatan Sangatta
Selatan dengan menggunakan Handrefraktometer
diperoleh besaran salinitas 35 -37 ‰. Daerah pasang surut pantai Teluk Lombok terdapat aliran sungai kecil yang
mempengaruhi salinitas perairannya. Kisaran
salinitas yang terdapat di daerah pasang surut pantai Teluk lombok ini masih
dapat ditolerir oleh teripang kelas holothuriadea
sesuai dengan pernyataan Boolootian (1996) dalam Hartati
( 1996) Holothuridae hidup di daerah yang memiliki salinitas yang
normal dan tidak dapat
mentolerir salinitas yang rendah.
Selanjutnya Aryono (1987)
dalam Hartati (1996) menjelaskan bahwa spesies teripang yang hidup di daerah
karang dapat mentolerir
salinitas 30 - 37 ‰.
Hasil pengukuran kecerahan diperoleh kecerahan
sampai
ke dalaman 50-80 cm
dari permukaan. Hartati (1996) menyatakan bahwa umumnya Holothuria
bersifat nokturnal di mana mereka aktif mencari makan pada malam hari dan
menyembunyikan diri pada siang
hari. Reaksi terhadap perubahan
intensitas cahaya adalah bervariasi.
Terhadap penerangan yang tiba- tiba, beberapa spesies bereaksi
bergerak menjauh atau berpindah. Hyman (1955) dalam Yusron
(2007) menyatakan teripang peka terhadap matahari, sehingga banyak teripang yang bersifat fototaxis negatif,
dalam beradaftasi dengan cahaya
matahari, Holothuria atra menempeli
badannya dengan butira
pasir halus sedangkan jenis B. Marmorata dan Holothuria scabra
membenamkan diri.
4.2.3. Derajat
Keasaman (pH)
Pengukuran tingkat keasaman perairan Teluk Lombok dengan menggunakan kertas pH diperoleh
ukuran pH perairan
yaitu 8-9 (lihat tabel 4). Secara umum
pH air laut pada daerah pasang surut pantai Teluk Lombok dapat dikategorikan
basa sedang. Perubahan pH air laut pada daerah pasang surut dipengaruhi oleh
iklim global,subtrat perairan dan masukan air tawar.
Menurut Kordi
(2010) bahwa syarat pertumbuhan teripang
adalah pH antara 6,5-8,5. Kondisi perairan pada
stasiun II dari aspek kimianya adalah pH
9, salinitas 37 o/oo , suhu 33 oC dengan subtrat
pasir halus yang padat dan ditumbuhi lamun. Pada stasiun II hanya
ditemukan
4 ekor teripang jenis
holothuria scabra. Jika dibandingkan
dengan Seluruh kondisi hidrologis hasil
penelitian
Yusron dan Widianwari (1990) di perairan Pantai Kai Besar Maluku Tenggara
(Tabel 1),
terjadi perbedaan yang signifikan
antara beberapa indikator fisika dan kimianya. Kisaran suhu yakni antara
28 - 30 oC.
Pada saat pengukuran kondisi perairan lokasi penelitian
stasiun III didapatkan ukuran suhu 40 oC,
salinitas 34 o/oo , pH 8. Perbedaan
kisaran suhu yang diperoleh dari hasil pengukuran di pantai Teluk Lombok yaitu 33
oC diduga karena pengukuran dilakukan pada saat tengah hari dan pada
saat kedalaman air hanya berkisar 10 – 15 cm
dan perlu diketahui juga bahwa perubahan suhu sangat fluktuatif. Begitupun
halnya dengan pengukuran salinitas yang dilakukan pada saat air surut terendah
yang menghasilkan salinitas mencapai 37 o/oo. Kisaran
salinitas ini berbeda jauh dari hasil
penelitian Yusron
dan Widianwari (1990) yakni berkisar 32,83
- 33,80 o/oo.
Menurut Hyman (1955) dalam Yusron
dan widianwari (1990) bahwa kondisi temperatur
dan kadar garam yang ideal bagi pertumbuhan dan kehidupan teripang adalah berkisar pada suhu antara 28
- 31 oC dengan salinitas 28- 34 o/oo. Hasil penelitian Radjab (2000) di Kepulauan
Padaido Biak Irian Jaya memiliki salinitas 33 -
35o/oo dan suhu berkisar
antara 30 - 32 oC.
4.3. Hasil Pengamatan Per Stasiun Penelitian
4.3.1. Stasiun I
Posisi stasiun I terletak pada N 00o 22’
31’’ dan E 117o 33’
46’’, perairan pada stasiun 1 lokasi penelitian mempunyai tipe
habitat dari arah pantai menuju daerah pasang surut terdiri dari zona pasir, tumbuhan
lamun dan terakhir adalah terumbu karang. Seluruh
stasiun pengamatan merupakan perairan pantai yang landai dan bersubtrat
pasir yang ditumbuhi lamun jenis Syringodium isoetifolium dan
Enhalus
acoroides. Karang
tumbuh tidak merata akibat
kerusakan yang
disebabkan oleh penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan potasium, akibat
pengeboman tersebut banyak subtrat
didaerah penelitian dipenuhi dengan retakan terumbu karang.
Dari hasil pengamatan pada
stasiun I ditemukan 46
ekor teripang dari 5 jenis teripang yang tergolong dalam 3 Famili. Pada stasiun I secara berurutan jenis yang mendominasi adalah teripang Pasir sebanyak
32 ekor, actinopyga miliaris 6 ekor, opheodesoma sp sebanyak 7 ekor, Holothuria vagabunda sebanyak 1 ekor dan Stichopus variegatus sebanyak 1 ekor. Kelima jenis
teripang tersebut ditemukan pada
subtrat
pasir yang bercampur dengan pecahan karang dan cangkang hewan yang ditumbuhi lamun. Pada saat pengamatan pula ditemukan Holothuria scabra
dalam setiap lokasi terdapat 2 - 5 ekor. Radjab
(2001) menyatakan
sebagian
besar teripang menyukai daerah bersubtrat pasir dan ditumbuhi
lamun seperti jenis Holothuria scabra
hidup secara
berkelompok antara 2-10 ekor dan membenamkan diri lumpur atau pasir yang banyak ditumbuhi lamun. Teripang jenis Holothuria scabra dan H.
Atra menyukai tempat yang berpasir dan ditumbuhi lamun selain karena di daerah padang lamun merupakan
daerah yang sangat produktif juga dikarenakan sifat teripang yang peka terhadap sinar matahari. Darsono ( 2007)
menyatakan
bahwa habitat dengan dasar pasir karang yang ditumbuhi lamun (sea grass)
merupakan tempat hidup teripang
dan juga
ditemukan
pada habitat yang selalu di bawah garis surut
terendah. Lebih lanjut Yusron (2007) menyatakan bahwa banyaknya teripang yang ditemukan di mikrohabitat
karang dikarenakan perlindungan dari sinar
matahari, sehingga lebih banyak teripang
yang bersifat phototaxis negative. Teripang jenis Holothuria scabra menghidari
sinar matahari dengan cara membenamkan diri dalam pasir serta
bersembunyi dibalik tumbuhan lamun,
sedangkan Holothuria atra menempeli tubuhnya dengan butiran pasir untuk memantulkan cahaya
sehingga suhu tubuhnya lebih rendah (Bakus
,1973) dalam (Yusron ,2007).
Tabel 5. Frekuensi
kehadiran dan kepadatan Teripang Hasil Pengamatan
pada
Stasiun I
|
No
|
Familia/species
|
Frekuensi (%)
|
Kepadatan (ind/m2)
|
Dominansi ( %)
|
|
1.
|
Holothuridae
- Holothuria scabra
-Holothuria vagabunda
-actinopyga miliaris
|
70
10
40
|
0,32
0,01
0,06
|
0,322
0,046
0,184
|
|
2.
|
Synaptidae
- Opheodesoma sp
|
50
|
0,07
|
0,23
|
|
3.
|
Stichopodidae
|
|
|
|
|
|
- Stichopus variegates
|
10
|
0,01
|
0,046
|
Teripang yang ditemukan selama penelitian
berjumlah 88 ekor yang terdiri dari 3 famili
dan terbagi dalam 8 jenis. Jenis teripang yang ditemukan di pantai Teluk Lombok
ini dapat digolongkan ke dalam ordo Aspidocchirotida. Sesuai dengan
hasil penelitian
Bakus (1973) dalam
Radjab
( 2000)
yang mengemukakan bahwa Aspidocchirotida banyak terdapat di daerah tropis. Hasil penelitian teripang di
Pantai Teluk Lombok tidak memiliki perbedaan
yang cukup signifikan dengan hasil
penelitian di daerah lain. Hasil penelitian
Yusron (2007) di perairan pantai Morella
Ambon menemukan 10 jenis teripang lebih lanjut penelitian Yusron (2004) menemukan
11 jenis teripang yang bernilai ekonomis.
Yusron (2007) di perairan pulau Moti –
Maluku Utara menemukan 8 jenis teripang
yang tergolong dalam 2 kelas (Holothuroiidae
dan Stichopodidae). Hasil analisis data menunjukkan bahwa frekuensi
kehadiran dan kepadatan mempunyai nilai yang cukup
bervasiasi (Tabel 6).
Tabel 6. Penyebaran teripang berdasarkan mikrohabitat
pada Stasiun I di
Pantai
Teluk Lombok
|
No
|
spesies
|
pasir
|
lamun
|
karang
|
|
1.
2.
3.
4.
5
|
Holothuria scabra
Holothuria vagabunda
Actinopyga miliaris
Opheodesoma sp
Stichopus variegatus
|
+
+
+
+
-
|
+
-
+
+
-
|
+
-
-
-
+
|
Dari tabel
penyebaran teripang mikrohabitat di atas menunjukan bahwa Holothuria scabra
mampu menempati semua habitat, selain itu juga berkaitan dengan tingkah laku
teripang yaitu upaya meredam pengaruh intensitas cahaya matahari kuat dan menghindari suhu yang relatif tinggi
dengan cara berlindung dibalik karang dan lamun serta membenamkan diri dalam
pasir (Aziz , 1995).
Gambar 5. Grafik Hubungan
Dominansi Jenis dengan Frekuensi Kehadiran
Frekuensi kehadiran tertinggi didapatkan pada jenis Holothuria scabra (70%) Opheodesoma sp
( 50 %), actinopyga miliaris (40 %) dan selanjutnya Holothuria vagabunda dan Stichopus variegates masing – masing (10 %). Penelitian Yusron
(1995) di perairan Kai Kecil Maluku menemukan
frekuensi tertinggi diseluruh lokasi penelitian
yaitu dari jenis Actinopyga mauritiana (83’3 %) dan jenis lainnya hanya
(33,3 % - 66,7 %).
Gambar 6. Grafik Hubungan Kepadatan dan Dominansi
Berdasarkan
hasil analisis data diperoleh Kepadatan teripang yang tertinggi yaitu dari
jenis Holothuria scabra (0,32 indv/m2)
diikuti oleh Opheodesoma sp (0,07 indv/m2), actinopyga miliaris ( 0,06 indv/m2) Holothuria vagabundadan Stichopus variegatus ( 0,01 indv/m2
). Jika dibandingkan dengan hasil penelitian
Yusron (2005)
di perairan
Pulau Moti,
Maluku Utara yang mendapatkan kepadatan
teripang tertinggi
dihuni oleh Holothuria scabra (1,12 indv/m2 ) dan Holothuria atra (1,02 indv/ m2
). Kepadatan teripang dari jenis- jenis tersebut dimungkinkan oleh kemampuan mereka menempati berbagai
habitat sehingga lebih
banyak pula kesempatan berkembang ( Yusron, 2005 ), lebih lanjut penelitian Yusron (2003) di perairan
Teluk Kotania , Seram Barat- Maluku
Tengah memperoleh
kepadatan tertinggi diduduki oleh jenis
Holothuria scabra (1,32 ind/m2) Holothuria atra ( 1,24
indv/m2 ) dan B. argus ( 1,02 ind/m2)
dan yang lain (1,00 ind/m2).
Gambar 7. Grafik Hubungan Frekuensi Kehadiran dan
Kepadatan
Dari gambar di atas R2 =1, ini menunjukan bahwa
hubungan antara frekuensi kehadiran dan kepadatan sangat kuat, arah hubungan apabila variabel terikat (Y) naik maka akan di ikuti oleh
kenaikan variabel bebasnya (X).
4.3.2. Stasiun II
Stasiun II berada pada posisi N 00o 22’ 85’’ dan E117o 33’ 75’’. Kondisi lokasi pada satasiun ini memiliki
subtrat yang berpasir halus dan ditumbuhi oleh lamun, daerah ini merupakan
sentral kegiatan pariwisata oleh
orang-orang yang berasal dari Sangatta dan Bontang. Daerah ini digunakan sebagai area bermain
(banana boat, berenang, serta bola pantai)
Hasil penelitian yang dilakukan pada stasiun II menemukan
jenis teripang Holothuria scabra
sebanyak 4 ekor, yang terdapat di padang lamun dengan subtrat pasir halus dan padat. Jika dibandingkan
dengan pernyataan Radjab (2000) yang
menyatakan bahwa habitat yang baik
bagi teripang adalah habitat yang memiliki subtrat lumpur, pasir sangat kasar, kerikil, cangkang moluska dan hancuran karang, ini
berkaitan dengan sifat borrowing (membenamkan diri) dari teripang tersebut.
Hasil analisis data Kepadatan teripang pada stasiun II berada
pada kisaran angka 0,04, jika dibandingkan
dengan hasil pengamatan pada stasiun I kepadatan teripang pada stasiun II ini
sangat berbeda jauh atau kurang. Kepadatan
teripang disuatu tempat dipengaruhi oleh kemampuan teripang itu sendiri dalam menempati habitat dalam hal berkembang biak serta ketersediaan makanan (Radjab,
2000).
Pada stasiun II ini hanya ditemukan teripang jenis Holothuria scabra
dengan frekuensi kehadiran
30
%, kurangnya
ditemukan pada stasiun II dikarena
daerah ini merupakan lokasi dengan tingkat aktifitas yang cukup tinggi yaitu dijadikan
tempat untuk berwisata
(bermain banana boat dan berenang).
Selain itu juga dikarena teripang tersebut membenamkan
diri kedalam pasir, seperti apa yang dikemukakan oleh Heryanto (1984) dalam
Yusron (2007), bahwa didaerah karang dan rumput laut cukup banyak ditemukan
teripang oleh karena kebutuhan perlindungan sinar matahari.
Hyman (1955) dalam Yusron (2007), mengemukakan
jenis teripang B. Marmorata dan H. scabra yang terdapat dimikrohabitat pasir mempunyai kemampuan
menghindari sinar matahari dengan cara membenamkan diri di pasir, dan Holothuria atra
menempeli badannya dengan pasir.
Tabel 7. Pengamatan frekuensi kehadiran & Kepadatan Teripang Stasiun II
|
No
|
Familia/species
|
Frek %
|
Kpdt ind/m2
|
Dominansi %
|
|
1.
|
Holothuridae
- Holothuria scabra
|
30
|
0,04
|
0,012
|
|
2.
|
Synaptidae
|
-
|
-
|
-
|
|
3.
|
Stichopodidae
|
-
|
-
|
-
|
4.3.3. Stasiun III
Posisi stasiun pengamatan III berada disebelah kiri
pelabuhan Teluk Lombok dengan
titik kordinat N 00o 23’ 342’’ dan E 117o 33’ 980’’.
Pada stasiun III terdapat pohon mangrove dengan subtrat yang terdiri dari pecahan karang, cangkang moluska
dan pasir yang sangat kasar serta ditumbuhi lamun yang berbatasan langsung
dengan mangrove.
Hasil penelitian menemukan 6 jenis teripang dari 3 famili, yaitu Holothuridae ada empat jenis ( H. atra, H. scabra, H.leucospilota
dan Actinopyga
echinites), Synaptidae satu jenis (Synapta
maculata ) dan Stichopodidae dua jenis ( Stichopus
variegatus dan Stichopus horrens ).
Gambar
8. Grafik Hubungan Frekuensi
Kehadiran dengan Kepadatan
Frekuensi
kehadiran dan kepadatan
Hasil pengamatan selama
penelitian frekuensi kehadiran jenis–jenis
teripang
yang
tertangkap pada
stasiun III, maka Synapta maculata memiliki nilai yang teringgi (50%) disusul Holothuria scabra (40 %) dan Holothuria
atra, Holothuria leucospilota serta Stichopus variegates dan Stichopus horrens masing- masing (20%). Jenis Synapta
maculata yang ditemukan sebanyak 7 ekor, Holothuria scabra
6 ekor, Holothuria atra
2 ekor, Sichopus hoorrens
2 ekor, Stichopus variegatus2 ekor, Holothuria
leucospilota 6 ekor dan Actinopyga echinites 13 ekor.
Tabel 8.
Pengamatan frekuensi kehadiran & Kepadatan Teripang Stasiun III
|
No
|
Familia/species
|
Frekuensi (%)
|
Kepadatan (ind/m2)
|
Dominansi (%)
|
|
1.
|
Holothuridae
- Holothuria scabra
-Holothuria
atra
-Holothuria leucospilota
- Actinopyga
echinites
|
40
20
20
40
|
0,06
0,02
0,06
0,13
|
14,4
7,2
7,2
14,4
|
|
2.
|
Synaptidae
-Synapta maculata
|
50
|
0,07
|
18
|
|
3.
|
Stichopodidae
- Stichopus variegates
-Stichopus
horrens
|
20
20
|
0,02
0,02
|
7,2
7,2
|
Dari
ketiga stasiun penelitian, stasiun III lebih variatif dibandingkan stasiun lainnya,
ditemukannya jenis lain yang tidak terdapat distasiun I dan II dikarena kemampuan organisme untuk menempati habitat, selain itu pula pada stasiun III kondisi perairan
masih relatif alami dengan kondisi perairan yang cukup jernih
dan tenang serta terdapat
hutan mangrove,
lamun
dan karang. Radjab (2000), menyatakan bahwa teripang dapat ditemukan hampir
diseluruh perairan pantai,
mulai
dari daerah pasang surut sampai perairan dalam dan menyukai perairan yang
jernih dan relatif tenang.Subtrat pada stasiun III ini adalah pasir kasar dan
pecahan-pecahan karang serta cangkang/rumah siput. Yusron (2007) menyatakan teripang
umumnya menyukai mikrohabitat karang, namun 7 jenis
diantaranya menempati rumput laut, 4 jenis menempati pasir dan 3 jenis menempati
mikrohabitat lamun. Umumnya masing-masing jenis memiliki habitat yang spesifik. Radjab (2000) lebih lanjut hasil
penelitian
Radjab
(2000)
di
perairan Kepulauan Padaido, Biak Irian jaya perairan pantai yang bersubtrat lumpur,
pasir yang sangat kasar, kerikil, cangkang
molluska dan hancuran karang, merupakan habitat yang baik bagi teripang yang
mana sesuai dengan sifat membenamkan diri (borrowing), dari teripang tersebut,
karena ukuran pasir sedang teripang dapat membenamkan diri dengan mudah. Jadi dapat dikatakan
bahwa penyebaran teripang pada setiap lokasi tidak sama, baik dalam jumlah
jenis maupun jumlah individu.
Tabel 9. Penyebaran
teripang berdasarkan mikrohabitat pada Stasiun III di
Pantai Teluk Lombok
|
No
|
spesies
|
Pasir
|
lamun
|
karang
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7
|
Holothuria scabra
Holothuria atra
Holothuria leucospilota
Actinopyga echinites
Synapta maculata
Stichopus variegates
Stichopus horrens
|
+
+
+
+
-
-
-
|
+
-
+
+
+
+
+
|
+
-
-
+
-
+
+
|
Daerah yang
bersubtrat lamun sangat kaya akan sumber makanan bagi teripang, karena lamun merupakan sedimen trap (penangkap sedimen). Teripang
adalah
pemakan detritus dan lebih banyak hidup dengan membenamkan diri dalam lumpur
dan pasir, sebagian besar
lebih cenderung menempati habitat yang
ditumbuhi lamun (Radjab, 2000).
Berdasarkan
hasil penelitian (Tabel 9) Actinopyga echinites menempati urutan pertama kepadatan individu pada
stasiun III (0,13 ind/m2) disusul synapta maculata ( 0,7 ind/m2) kemudian Holothuria scabra dan Holothuria leocospilota (0,6 ind/m2)
dan terahir Holothuria atra, Stichopus horrens, Stichopus variegatus (0,2 ind/m2). Hasil penelitian Radjab ( 2000 ), menemukan kepadatan teripang di perairan Pasarwajo
Pulau
Buton Sulawesi Tenggara
ditempati oleh Holothuria hilla
(0,012 ind/m2) diikuti Holothuria
scabra ( 0,001 ind/m2).
Lebih
lanjut dikatakan bahwa kepadatan menurut jenis tersebut
dapat
disebabkan oleh kemampuan teripang menempati habitat. Penelitian Yusron (2007) di Pulau Moti Maluku Utara
menemukan kepadatan teripang jenis Holothuria
scabra (1,12 ind/m2) dan Holothuria
atra (1,02 ind/m2)
pada
stasiun I sedangkan Stasiun II kepadatan Holothuria
scabra (1,08 ind/m2) dan Holothuria atra (1,06 ind/m2).
4.3.4. Frekuensi Kehadiran
Teripang di Pantai Teluk Lombok
Pantai Teluk
Lombok memiliki jenis teripang yang relatif tinggi Jika dibandingkan dengan
hasil penelitian Radjab (2000) di perairan Kepulauan Padaido Biak, yang menemukan 4 jenis teripang. Kehadiran 6 jenis teripang di Pantai teluk Lombok dikarenakan adanya subtrat yang terdiri dari pasir kasar yang ditumbuhi
lamun. Darsono (2007), menyatakan bahwa habitat dengan
dasar pasir karang yang ditumbuhi lamun (sea
grass) merupakan tempat hidup teripang. Kehadiran beberapa jenis teripang selain
dipengaruhi oleh subtrat juga dipengaruhi oleh faktor makanan.
4.3.5. Dominansi Jenis
Dari
Tabel 6 dapat dilihat
bahwa jenis teripang yang dominan yang mendiami stasiun I secara berurutan
adalah Holothuria scabra (0,322%), Opheodesoma
sp (0,23% ), actinopyga miliaris
(0,184%), Holothuria vagabunda dan Stichopus (0,046%) yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Sebagai pembanding di perairan Pasarwajo, Pulau Buton
Sulawesi Tenggara hasil penelitian Radjab (2001)
menemukan
jenis teripang yang dominan adalah H. Hilla (0,029 %) diikuti oleh jenis B similis dan H. Scabra
(0,001% ).
Gambar
9. Grafik Hubungan Dominansi dan
Kepadatan
Perbedaan
Dominansi tersebut dikarenakan
kemampuan tiap
jenis teripang untuk beradaptasi dan bertahan hidup pada suatu tempat tidak
sama. Holothuria scabra memiliki kemampuan adaptasi yang cukup tinggi, holothuria
scabra dapat hidup disetiap daerah
baik daerah terumbu karang, pasir
ataupun daerah lamun, serta bisa beradaptasi dengan kisaran suhu yang cukup
luas. Keberadaan Holothuria scabra
disetiap makrohabitat tersebut oleh karena kebutuhan perlindungan dari sinar
matahari, karena teripang peka terhadap sinar matahari sehingga teripang
bersifat phototaxis negatif, untuk jenis Holothuria
scabra adaptasi terhadap sinar matahari dengan cara membenamkan diri dalam
pasir, serta berlindung dibalik karang dan lamun Hyman (1955) dalam
Yusron (2007). Berdasarkan pada Tabel 8 Stasiun III didominansi oleh
jenis Holothuria echinites dan Holothuria scabra (14,4 %) selanjutnya
jenis Synapta maculata (18%) dan seterusnya
jenis lain (7,2%). Hasil penelitian Radjab
(2000) menemukan jenis
Holothuria hilla mendominansi
perairan Pasarwajo Buton Sulawesi Tenggara dengan nilai (0,029%)
disusul oleh jenis B.
smilis dan Holothuria
scabra (0,001%).
Gambar 10. Grafik Hubungan Frekuensi Kehadiran dan Dominansi Jenis
Jika
dibandingkan dengan hasil penelitian di
Pantai Teluk Lombok dengan penelitian Radjab (2000) terjadi
perbedaan dominansi jenis, untuk jenis Holothuria scabra
sendiri dalam penelitian Radjab (2000) di perairan Pasarwajo Buton
Sulawesi Tenggara diperoleh (0,001%), hasil penelitian yang dilakukan di
Pantai Teluk Lombok didapatkan dominansi
jenis Holothuria scabra pada stasiun I yaitu (0,322%).
Gambar 11. Grafik Hubungan pH dan Frekuensi
Kehadiran
Berdasarkan
gambar grafik di atas menunjukan
bahwa sifat keasaman dari air laut sangat berpengaruh terhadap frekuensi
kehadiran teripang di pantai Teluk Lombok.
Gambar
12. Grafik Hubungan salinitas dengan Frekuensi Kehadiran
Gambar 13. Hubungan Suhu dengan Frekuensi Kehadiran
Pertumbuhan
biota laut di daerah pasang surut sangat tinggi, disebabkan karena daerah ini
merupakan tempat hidup, tempat berlindung, dan tempat mencari makan. Selain
itu, kondisi lingkungan pada daerah ini sangat menguntungkan bagi pertumbuhan
biota laut karena adanya dukungan dari faktor fisika, kimia, dan biologis laut.
Faktor fisika-kimia laut meliputi salinitas, pH, arus, suhu, dan kecerahan
yang selalu berubah-ubah sangat berpengaruh terhadap kehidupan organisme di
daerah pasang surut.
V. KESIMPULAN
DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Pantai Teluk
Lombok maka, frekuensi kehadiran
teripang tidak merata pada tiap stasiun penelitian
frekuensi kehadiran teripang tertinggi pada stasiun I yaitu 70 % dari jenis Holothuria
scabra kemudian Ophedesoma sp sebesar
50 %, disusul Acktinopyga miliaris
sebesar 40 % selanjutnya H. vagabunda
dan stichopus variegatus masing- masing 10%. Kepadatan Teripang tertinggi yaitu jenis Holothuria scabra dengan kisaran 0,32 ind/m2. Teripang yang mendominansi di
Pantai Teluk
Lombok adalah dari Kelas Holothuridea ( Holothuria scabra, H. atra ,
actinopyga
echinites, H.
lescopilota). Keberadaan teripang dari kelas/Famili Holothuridea ini, mungkin
karena kemampuan untuk
menempati habitat, serta kemampuan adaptasi
terhadap lingkungan (suhu, dan salinitas) yang cukup tinggi
5.2. Saran
Untuk
mendapatkan data yang lebih akurat, maka perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan pengamatan yang
lebih teliti. Perlu adanya aturan dari pemerintah atau instansi terkait dalam
hal pengembangan daerah budidaya pantai agar tidak terjadi tumpang
tindih penggunaan lahan.
Komentar
Posting Komentar