PENELITIANQ 2012

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar  Belakang
Kabupaten Kutai Timur salah satu Kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur dengan Sangatta sebagai  ibu  kota  Kabupaten, secara geografis terletak antara 118o 58 19 -115o 58 26 BT dan  antara 1o 52 39 - 0o 02 10 LU.  Berbatasan  dengan Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Berau di utara, Selat Makassar di timur, Kabupaten Kutai Kartanegara di selatan dan barat.  Luas wilayah daerah ini  35.747,50 Km2.  Kutai Timur adalah salah satu kabupaten pemekaran dari Kabupaten Kutai yang memiliki panjang garis pantai 152 km  dengan topografi pantai yang landai memiliki keanekaragaman sumberdaya hayati laut dan tersebar dibeberapa Kecamatan pesisir ( Kec. Sangatta Utara, Sangatta Selatan,  Kec.  Sangkulirang,  Sandaran,  Teluk  Pandan,  Bengalon dan Kec. Kaliurang ).
Teluk Lombok merupakan daerah pesisir yang terletak di Desa Sangkima Kecamatan Sangatta Selatan, daerah ini memiliki berbagai sumberdaya alam hayati seperti ekosistem mangrove, terumbu karang, padang lamun dan berbagai jenis euchinodermata berupa: bintang laut, anemon laut, bulu babi dan yang menjadi  objek penelitian yaitu teripang (Holothuridea).
Kordi ( 2009) menyatakan bahwa,  tempat  hidup Teripang adalah perairan pantai, mulai dari daerah pasang surut yang dangkal sampai perairan yang dalam. Beberapa kelompok hidup di daerah berbatu yang dapat digunakan sebagai tempat  persembunyian.  Sedangkan yang lain hidup pada  daerah  yang ditumbuhi rumput laut, lamun atau daerah berpasir, ada pula yang membuat lubang di lumpur dan pasir.   Teripang hidup pada kedalaman 1 -  40 m.
Belum adanya informasi yang jelas tentang penyebaran dan distribusi serta dominansi  jenis  teripang yang hidup di pantai Teluk Lombok yang melatar  belakangi peneliti untuk meneliti distribusi, kepadatan serta dominansi teripang yang hidup di daerah pantai Teluk Lombok. Diharapkan dengan adanya  informasi tentang distribusi, kepadatan serta  dominansi  jenis teripang  di pantai  Teluk  Lombok  memudahkan  masyarakat  untuk  melakukan penangkapan.
1.2. Tujuan

            Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1.    Untuk mengetahui distribusi teripang di Pantai  Teluk  Lombok.
2.    Untuk mengetahui kepadatan teripang  di Pantai  Teluk  Lombok.
3.    Untuk mengetahui dominasi teripang  di Pantai  Teluk  Lombok.
1.3. Manfaat
            Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
1.    Adanya informasi tentang distribusi, Kepadatan serta dominasi teripang di Pantai Teluk Lombok.
2.       Serta sebagai bahan informasi bagi Mahasiswa dalam melakukan penelitian lanjutan tentang teripang dan sebagai informasi bagi instansi swasta dan pemerintah dalam perluasan wilayah budidaya pesisir.





II.  TINJAUAN PUSTAKA

2.1.  Pengenalan  Teripang
Martoyo (2007), menyatakan bahwa teripang merupakan salah satu anggota hewan berkulit duri, yang memiliki tubuh yang lunak, berdaging dan berbentuk silindris memanjang seperti ketimun. Teripang merupakan hewan yang berduri atau berbintil pada kulitnya yang hidup di daerah pantai terutama pada daerah terumbu karang  (Kordi, 2009).
2.2. Morfologi dan  Taksonomi  Teripang
1. Morfologi  Teripang
Tubuh teripang pada umumnya berbentuk bulat panjang atau silindris dengan panjang sekitar 10-30 meter. Mulutnya ada pada salah satu ujung dan dubur pada ujung yang lainnya. Mulut  teripang dikelilingi oleh tentakel atau lengan peraba yang  kadang  bercabang- cabang. Tubuhnya  berotot, dapat  tipis atau tebal, lembek atau licin serta dapat berkulit halus dan berbintil serta memiliki beberapa warna ( Kordi,2009).
                                                           




Stichopus variegatus                          Teripang pasir
Sumber : Suryanti. 2011

Gambar 1. Morfologi Stichopus variegatus dan Teripang Pasir

2.  Taksonomi  Teripang
Martoyo (2007),  mengklasifikasikan  teripang sebagai berikut:
 Fillum : Echinodermata
            Sub-filum: Echinozoa
                         Klass: Holothuroidea
                                   Sub-Klas: Aspidochirotacea
                                              Ordo: Aspidochirotda
                                                           Famili            :  Holothuridae
          Genus            :
1.     Holothuria
                                     Spesies:  Holothuria argus
                                                  :  Holothuria vacabunda
                                                 :  Holothuria impatiens
                                                 :  Holothuria scabra
                                                 : Holothuria  marmorata
                                                 : Holothuria edulis
                   2.  Muelleria
                                     Spesies:  Muelleria lecanora
                   3. Stichopus
                                    Spesies:  Stichopus ananas
                                                :  Stichopus cholonaratus
                                                Stichopus variegates



WoMRS  (2011), memberikan klasifikasi untuk Holothuria leucospilota, seperti yang tercantum di bawah ini
Superdomain: Biota
Kingdom: Animalia
Phylum: Echinodermata
Subphylum: Echinozoa
Clas: Holothuroidea
Order: Aspidochirotida
Family: Holothuriidae
Genus: Holothuria
Subgenus: Holothuria (Mertensiothuria)
Species: Holothuria (Mertensiothuria) leucospilota.
          Teripang Actinopyga echinites diklasifikasikan oleh  WoRMS ( 2011) seperti yang tertera di bawah ini.
Superdomain: Biota
Kingdom: Animalia
Phylum: Echinodermata
Subphylum: Echinozoa
Clas: Holothuroidea
Order: Aspidochirotida
Family: Holothuriidae
Genus: Actinopyga
Species: Actinopyga echinites




Karakteristik  Teripang
Mulyani dkk (2009), menyatakan bahwa tubuh Holothuroidea lunak, berbentuk bulat panjang, terlindung atas osikel yang amat halus dan tidak mempunyai lengan. Lekuk ambulakral tertutup tidak terdapat madreporit eksternal. Kaki tabung termodifikasi menjadi tentakel oral, kaki tabung dengan atau tanpa penghisap. Skeleton terdiri atas osikel kecil, tanpa spina dan pediselaria.  Holothuroidea  memiliki  daya  regenerasi  yang  tinggi.   Pada ujung anterior terdapat mulut dikelilingi sepuluh sampai tiga puluh buah tentakel. Fungsi tentakel ini dapat disamakan dengan kaki tabung bagian oral echinodermata. Seperti echinodermata lainnya, maka sistem vaskular air holothurian terdiri dari sebuah cincin anterior kanal dari kanal yang timbul selama menjalankan posterior meskipun kesamaan dengan kanal radial echinodermata lainnya,  struktur  terakhir  ini  muncul embriologis dalam cara yang  sangat  berbeda.
Birowo  (1973)  dalam  Fransiskus (1996), menyatakan bahwa bangsa teripang (Holothuroidea)  mempunyai bentuk tubuh memanjang, hampir  silindris, beberapa kelompok ada yang  berbentuk U, berbentuk  kumparan,  memipih atau silindris. Ukuran panjang ada yang mencapai 50 cm dan ada yang hanya beberapa centimeter.  Azis  dkk (1994) dalam  Fransiskus (1996),  menyatakan  bahwa kelompok teripang adalah pemakan detritus dan kandungan organik  dalam pasir/lumpur. Dikomunitas padang lamun, detritus ini terutama disumbangkan oleh proses pembusukan daun lamun. Sutaman (1993) dalam  Fransiskus (1996), menyatakan bahwa umumnya  teripang adalah pemakan deposit pasir yang penting didaerah terumbu karang. Pawson 1976 dalam  Fransiskus (1996) teripang dapat memanfaatkan tiga sumber makanan yaitu; plankton, detritus, dan  material organik yang terkandung dalam subtrat.
2.4. Distribusi dan  Habitat  Teripang
Aziz (1997), menyatakan bahwa habitat atau tempat hidup teripang adalah ekosistem terumbu karang dan ekosistem lamun, mulai dari zona intertidal sampai ke dalaman 20 meter. Pada umumnya teripang menyukai perairan yang bersih dan jernih dengan salinitas laut normal  sekitar 30 - 33 o/oo, dasar berpasir halus dengan tanaman pelindung (jenis-jenis lamun),  terlindung dari hempasan gelombang dan lingkungan hidupnya kaya akan  kandungan detritus  (pembusukan lamun dan algae)  
Aziz (1995), menyatakan bahwa teripang dari suku Holothuridae dan stichopodidae  bisa  menempati segala  macam  tipe dasar  (subtrat),  seperti lumpur, lumpur pasiran,  pasir,  kerikil,  pantai berbatu,  karang mati,  pecahan karang (rubles), dan bongkahan karang (boulders). Dengan kemampuan  adaptasi   yang  baik  teripang bisa menempati berbagai macam tipe dasar.
Teripang adalah hewan yang bergerak lambat, habitat di lautan hidup pada dasar substrat  pasir,  lumpur pasiran  maupun dalam  lingkungan  terumbu.  Hewan ini ditemukan di hampir semua lingkungan laut, tetapi yang paling beragam di perairan dangkal tropis terumbu karang. Teripang merupakan komponen penting dalam rantai makanan di terumbu karang dan ekosistem asosiasinya pada berbagai tingkat struktur pakan (trophic levels). Teripang berperan penting sebagai pemakan deposit (deposit feeder) dan pemakan suspensi (suspensi feeder).  Di wilayah Indo-Pasifik,  pada daerah  terumbu yang  tidak mengalami  tekanan eksploitasi, kepadatan   teripang bisa lebih dari 35 ekor per m2, dimana setiap individunya bisa memproses 80 gram berat  kering sedimen setiap harinya. Beberapa spesies teripang yang mempunyai nilai ekonomis penting diantaranya: teripang putih (Holothuria scabra), Teripang Koro (Microthele nobelis),  Teripang Pandan  (Theenota ananas),  Teripang Dongnga  (Stichopu ssp) dan beberapa jenis teripang lainnya  (Mulyani  dkk,  2009).
Kordi (2009),  menyatakan  bahwa tempat hidup teripang adalah perairan pantai, mulai dari daerah pasang surut yang dangkal sampai perairan yang dalam. Beberapa kelompok hidup di daerah berbatu yang dapat digunakan sebagai  tempat  persembunyian.  Sedangkan yang lain hidup pada daerah yang ditumbuhi  rumput  laut, lamun atau daerah  berpasir,  ada pula yang  membuat  lubang di lumpur dan pasir. Teripang hidup pada ke dalaman 1 m sampai dengan  40 meter.
Purwati ( 1988 ) dalam Yuana ( 2002 ),  menunjukan penyebaran teripang  berdasarkan habitatnya  menempati  daerah-daerah  tertentu di perairan seperti :
a.    Daerah  rataan pasir yang  berbatasan  dengan  daerah  pertumbuhan algae, terdapat sedikit Holothuria. Daerah ini relatif miskin dibandingkan habitat lain.
b.    Daerah  ilalang  laut ,  di antara  Enhalus  ditemukan  Holothuria atra, H. Arenicola, H. Nobilis dan H. Scabra.
c.    Daerah pertumbuhan algae,  terutama ditempati oleh Holothuria atra, H. Arenicola, H edulis, H. Nobilis dan Stichopus variegatus.
d.    Daerah tubir, dijumpai Holothuria atra, H. Coluber, stichopus variegatus, S. Choloronatus  dan  Thelenota ananas.
Distribusi  teripang  pada suatu tempat  dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu ketersediaan makanan dan musim. Beberapa jenis teripang bergerak mendekati garis pantai selama musim  memijah karena ketersediaan makanan di dekat garis pantai tersebut diperlukan selama proses memijah (wirasti, 1990) dalam (Yuana, 2002). Lebih lanjut Wirasti (1990) dalam Yuana (2002), menyatakan bahwa distribusi dari teripang juga dipengaruhi oleh daya adaptasinya terhadap perubahan kondisi lingkungan yang ekstrim. Misalnya  salinitas lingkungan perairan di luar kisaran normal dari teripang, karena teripang merupakan organisme yang tidak toleran terhadap salinitas rendah. Teripang (Holothuroidea) banyak ditemukan di perairan pantai pada semua ketinggian di daerah pantai, mulai dari daerah tepi pantai Sampai laut dengan kedalaman besar, untuk hidupnya, teripang menyukai perairan jernih dan airnya relatif tenang.
2.5. Biologi  Teripang
Uly (1998), menyatakan bahwa kalau dilihat susunan tubuh teripang, maka dibelakang mulut  terdapat  sebuah cincin kapur yang mengelilingi  oesophagus,  terdiri dari potongan - potongan berjumlah 10-18  buah, lebih lanjut dikatakan bahwa cincin kapur tersebut berfungsi untuk menguatkan leher, cincin saraf, tempat menyimpan air dan sebagai dasar penempatan otot  panjang  (Longitudinal).  Di belakang cincin kapur ini terdapat cincin air yang merupakan pusat dari sistem sirkulasi air dalam tubuh.
Bangsa  teripang  (holothuridea)   mempunyai  bentuk  tubuh  memanjang   hampir silindris.  Beberapa kelompok ada yang tubuhnya berbentuk U, berbentuk kumparan, memipih atau silindris Fransiskus (1996), lebih lanjut  dinyatakan bahwa genus Holothuria dapat  mencapai panjang sampai 600 mm dan berat 2400 gram.  Aryono (1987) dalam  Fransiskus (1996), menyatakan bahwa rata-rata panjang  H. vagabunda  adalah 296,4 mm  dan rata-rata beratnya 992,14 gram. Birowo (1973) dalam Fransiskus (1996) menyatakan  bahwa  tubuh  teripang  lembek, berotot melingkar  dan memanjang  yang  terletak  dibawah  dinding  tubuhnya.  Saluran alat pencernaan  berkelok-kelok menuju  duburnya.   Mulyani dkk (2009), menyatakan  bahwa dinding tubuh Holothuroidea tertutup oleh epidermis yang umumnya bersilia.  Di sebelah luar  epidermis  yang  tidak  bersilia  sering  dilapisi  lapisan  kutikula.  Di sebelah dalam  epidermis  terdapat otot  memenjang dan melingkar yang memungkinkan tubuh teripang dapat memanjang dan memendek seperti cacing tanah.  Kerangka terletak pada internal dan terdiri atas spikula kapur  mirip  batang, roda ataupun jangkar. Mulut di ujung dikelilingi oleh tentakel yang berfungsi menggumpalkan makanan  (diduga kaki  tabung yang sudah bermodifikasi).
Tubuh teripang sebagian besar terdiri dari jaringan ikat  yang dapat berubah  dengan  cepat  dari  lembut  menjadi  keras.  Jaringan ini berkembang dengan  baik dengan  lapisan  otot (dapat  memanjang) membantu mereka untuk bergerak mengalir ke tempat-tempat sempit untuk menyembunyikan diri dari  predator  yang bisa memangsa diri mereka. Mereka juga memiliki ossicles (potongan keras kalsium  karbonat),  tetapi berupa mikroskopis yang bisa berubah dan didistribusikan  secara  luas di jaringan  ikat.  Dalam beberapa teripang, mereka dapat  memberikan ossicles pada tekstur kulit yang kaku dan kasar. Ossicles timun laut yang halus dan menakjubkan digunakan untuk mengidentifikasi  spesies timun laut  (Mulyani  dkk, 2009).  Winanto (1994) dalam  Yuana (2002), menyatakan bahwa teripang merupakan salah satu anggota hewan  berkulit  duri (Echinodermata). Tubuh teripang lunak, berdaging, dan bentuknya silindris  memanjang  seperti buah mentimun.
Barnes (1980) dalam Yuana (2002), menyatakan bahwa warna dari teripang biasanya sangat berguna sebagai petunjuk untuk menentukan jenis teripang. Bentuk  kaki tabung  biasanya  dijumpai dan digunakan sebagai alat untuk melekat pada subtrat, tetapi strukturnya terbatas dan kadang-kadang termodifikasi atau bahkan tidak ada sama sekali. Tubuh teripang biasanya tidak licin tetapi terdapat  tonjolan – tonjolan kecil di sepanjang  tubuh yang  jumlahnya  banyak atau  sedikit  tersebar di seluruh  permukaan  tubuh.
2.6. Sistem  Pencernaan
Sistem pencernaan makanan teripang dimulai dari mulut, kemudian melalui cincin kapur dan cincin air makanan masuk ke dalam kerongkongan, ke lambung, ke usus dan berakhir di anus.  Panjang usus teripang bisa mencapai 2 atau 3 bahkan lebih dari panjang tubuhnya  yang melingkar- lingkar  dalam tubuh (Uly, 1998).
Mulyani dkk  (2009), menyatakan bahwa alat pencernaan teripang  terdiri atas esophagus, lambung, usus yang cukup panjang dan berakhir pada usus di  kloaka. Zat-zat  makanan  hasil  pencernaan diserap oleh usus dan diedarkan oleh sel-sel amebosit yang terdapat pada cairan tubuhnya sistem pembuluh airnya terdiri atas madreporit, saluran cincin  yang mengelilingi  esophagus  dan saluran radial  yang berhubungan dengan bagian ampula sepanjang lapisan otot.
2.7. Sistem  Reproduksi
Uly (1998), menyatakan bahwa teripang pada umumnya terdiri dari  jantan dan betina, tetapi tidak dapat dibedakan secara morfologi. Teripang  memijah pada sore dan malam hari, pembuahan  teripang terjadi di dalam air dengan cara, pertama teripang jantan akan melepaskan spermanya kemudian teripang betina meletakkan telurnya. Untuk jenis teripang yang hermaprodit  sperma dan telur tidak dilepaskan secara bersamaan, tetapi dengan selang  waktu 1 sampai 2 hari dan  rata- rata pemijahan berlangsung 30 menit,  walaupun  ada  juga yang  berlangsung 15 menit – 4 jam.
Teripang berkembang biak secara kawin dan berkelamin terpisah. Gonadnya berbentuk seperti sikat dilengkapi saluran-saluran halus yang dihubungkan dengan saluran kelamin yang terletak dekat tentakel. Pembuahannya bersifat eksternal. Telur yang telah dibuahi setelah menetas akan menghasilkan larva yang disebut aurikularia. Alat reproduksi terdiri atas jumbai filamen yang bermuara ke saluran genital ( Mulyani dkk,  2009).
Sebagian  besar  teripang  memiliki  jenis  kelamin  terpisah baik  jantan atau betina. Organ reproduksi mereka di dekat bagian depan tubuh mereka. Kebanyakan spesies, sperma dan sel telur  dilepaskan  secara  bersamaan untuk fertilisasi eksternal. Beberapa pemijahan teripang yang meningkatkan dalam  kobra  seperti postur ketika merilis telur dan sperma.   Peneliti menyarankan agar pemijahan disinkronisasikan lebih dari satu spesies untuk dilakukan pemijahan secara bersama-sama. Teripang mengalami proses metamorfosis dari larva menjadi seperti bentuk dewasa.  Bentuk larva menetas dari  telur bilateral simetris dan bebas berenang, melayang dengan plankton, dan akhirnya berkembang  menjadi  teripang  kecil ( Mulyani dkk,  2009).
2.8. Sistem  Pernapasan
Sebuah ciri khas beberapa teripang adalah sistem pernapasan internal percabangan tabung sepanjang tubuh mereka.  Pernafasan teripang yang disebut pohon ini yang paling besar memiliki sepasang alat pernapasan tersebut masing-masing terhubung dari depan ke bagian belakang. Untuk  bernapas,  mentimun  laut memompa  air  melalui  bagian belakang  dan naik melalui pohon pernapasan. Air itu kemudian mengalir keluar melalui bagian belakang lagi.   Dengan ini air terus mengalir, beberapa makhluk kecil ditemukan  termasuk  kepiting  dan  kacang polong  Pearlfish  berada  dibelakang seekor  seacucumber  dengan nyaman dan aman. Namun beberapa  teripang kecil hanya bernapas melalui kulit ( Mulyani dkk,  2009).
Uly  (1998), menyatakan bahwa teripang memiliki dinding tubuh yang tipis,  pernapasan  dilakukan  dengan seluruh  permukaan  tubuhnya,  sedangkan  yang memiliki dinding tubuh yang tebal dilakukan dengan bantuan alat pernapasan yang berbentuk  pohon  bercabang- cabang yang disebut respiratory  tree .  Oksigen dalam air diisap melalui anus dan didorong  ke dalam respiratory  tree  kemudian di keluarkan kembali melalui  anus pula,  hal ini  terjadi  beberapa kali dalam 1 menit.
2.9. Jenis  Teripang  Yang  Bernilai  Ekonomis
          Kordi (2010), menyatakan bahwa di Indonesia diperkirakan hidup  257  spesies  teripang,  tetapi yang telah diketahui  baru  60 spesies.  Dari 60 spesies itu, baru 23 spesies yang sudah dieksploitasi dan umumnya dikonsumsi.  Dari  23  spesies tersebut  hanya  5 spesies  yang  paling dicari oleh masyarakat  yaitu:
2. 9.1  Teripang  pasir
          Teripang pasir (Holothuria scraba) memiliki bentuk badan yang bulat (buntek) dengan panjang sekitar 30 cm.   Warna  punggungnya  abu- abu sampai agak kehitaman, dengan  garis- garis melintang dan diantara garis-garis itu terdapat  warna putih,  dengan  warna  bagian  perut berwarna kuning keputih- putihan  dengan  bercak- bercak  hitam  kecil.   Permukaan kulit kasar bila diraba,  teripang  ini  hidup sendiri- sendiri di antara karang dan perairan yang bagian dasarnya berupa pasir halus.
2.9.2   Teripang  Lotong  (Holothuria nobilis)
Teripang  lotong  mempunyai bentuk  seperti  tabung dan berkulit  tebal. Warnanya hitam, hitam kecoklatan. Begitu pula bagian perutnya. Panjang  sekitar  25 cm. Duburnya berbentuk bintang berwarna kuning. Jenis ini banyak  terdapat di daerah pasang surut Indonesia bagian barat. Teripang  hitam  hidup di daerah  perairan berkarang atau  berpasir yang ditumbuhi ilalang laut  atau sea grass  (Martoyo, 2007).
2.9.3.  Teripang  Getah (Holothuria  vocabunda)
Teripang  getah atau teripang  keeling  mempunyai tubuh berbentuk bulat, panjang  dan langsing.  Panjang  badan  antara 20-30 cm.   Warna  badan coklat muda atau coklat tua.  Pada bagian mulut  terdapat rumbai-rumbai  pendek  yang  menyerupai kembang kol. Getah yang dikeluarkan apabila ditangkap seperti  getah karet yang berfungsi sebagai alat  membela diri. Jenis ini belum banyak  diperdagangkan.
2.9.4.   Teripang  coklat  (olok-olok)
          Teripang Coklat (Holothuria mammorata). Memiliki badan berbentuk bulat  panjang dan kecil.  Warna teripang  ini  cukup  variatif,  ada yang berwarna coklat kuning dan ada yang berwarna coklat pekat. Namun pada umumnya  memiliki warna abu-abu kecoklatan.  Badannya tertutup oleh tonjolan  menyerupai duri yang berbentuk kerucut dan berwarna kuning muda.
2.9.5.  Teripang  Darah  (Holothuria atra)
Teripang darah memiliki tubuh yang langsing memanjang, berwarna hitam dengan tentakel  kekuning- kuningan panjang 15-20 cm,  jenis ini hidup di daerah berpasir  atau di antara  karang yang  tertutup pasir.
2.9.6.   Teripang  Nanas (Sticopuss ananas).
          Teripang  nanas  mempunyai  tubuh berwarna  coklat  dengan duri kuning jingga. Setelah tua durinya berubah bentuk menjadi bulatan-bulatan yang  tersebar sekitar 3-5 duri membentuk bulatan dengan bentangan teratur mirip buah nanas sehingga teripang ini sering disebut Teripang Nanas.  Teripang  ini  banyak  hidup dibagian timur  Indonesia  terutama di perairan dangkal  dan  tenang.
2.10.   Manfaat   Teripang
Teripang adalah komoditas penting karena hewan ini dikonsumsi oleh berbagai kelas sosial masyarakat dunia.  Cina  merupakan negara yang telah lama memanfaatkan teripang untuk dijadikan hidangan  istimewa pada perayaan, pesta dan  hari - hari  besar  (Kordi, 2010).  Beberapa manfaat teripang diantaranya :
2.10.1. Teripang  sebagai  Bahan  Pangan
Kordi (2010), menyatakan bahwa sebagai bahan pangan teripang mempunyai nilai gizi yang tinggi dan rasanya sangat lezat, teripang memiliki kadar protein yang tinggi yaitu 82% dengan kandungan asam amino yang lengkap seperti omega 3 yang penting  untuk  kesehatan jantung. Teripang dapat diolah menjadi makanan dalam berbagai bentuk seperti; teripang kering,  teripang  beku, usus, asin,  dan  daging  teripang kaleng.
2.10.2. Teripang Sebagai  Obat
Selain sebagai obat teripang juga digunakan sebagai obat dalam penelitian farmakologi dan kedokteran modern membuktikan  bahwa  teripang adalah obat yang berhasiat. Penelitian Hasan dari Universitas Malaya menggunakan  teripang  untuk  menyembuhkan  luka  karena  mengandung CGF (Cell Growth Factor) yang dapat menstimulus regenerasi sel sehingga mempercepat  penyembuhan luka  (Kordi,  2010).
Sebuah hasil penelitian  menemukan  bahwa teripang spesies  Holothuria atra, H. scabra memiliki efek anti bakteri karena dapat menghambat pertumbuhan  bakteri  Streptococcus  faecalis penyebab  pembengkakan  lapisan dalam jantung.  Teripang  juga  dapat  memperkokoh  tulang   dan sendi   karena   mengandung  86%  protein yang mudah diuraikan oleh  enzim  pepsin,  selain  itu  teripang juga mengandung kondroitin sulfat yang mampu mengurangi  rasa  sakit  akibat  radang  sendi  (Kordi, 2010).
2.11.  Distribusi  dan  Kelimpahan
Purnomo dkk  (1994) dalam  Fransiskus ( 1996), mengatakan bahwa disribusi atau penyebaran dapat dianggap sebagai suatu bidang dalam kelimpahan. Distribusi dan kelimpahan mempunyai hubungan timbal balik, seakan- akan  seperti bidang  bersebelahan dari suatu mata uang.
Distribusi teripang dipengaruhi oleh topografi dan  tingkat  kekeringan dari  rataan terumbu karang. Darsono dkk (1998), menyatakan bahwa teripang ditemukan pada habitat selalu berada dibawah garis surut terendah. Habitat  dengan dasar pasir karang yang sebagian ditumbuhi lamun (sea grass : Enhalus,  dsb)  merupakan tempat hidup teripang.
Lawrence (1979) dalam Darsono dkk (1998), menyatakan bahwa  densitas  yang  cukup besar,  berkisar 12- 546  individu/m2,  jenis  teripang  yang ditemukan di daerah rataan  terumbu Enewetak  Atoll, Marshal Island.


2.12. Nilai  Ekonomis  Teripang
Sebagai salah satu sumberdaya hayati laut yang potensial, teripang  banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan secara langsung dengan pengolahan sederhana maupun proses yang lebih panjang melalui pengeringan, pembekuan,  pembuatan  tepung  dan diolah  menjadi  kerupuk  teripang  dengan nilai  gizi yang  tinggi  (Hartati, 1996).
          Teripang merupakan komiditi ekspor yang penting  ke Negara-negara  Eropa, Jepang  dan  Amerika.  Yusron (2004), menyatakan bahwa harga teripang  berkisar antara  Rp.50.000 – Rp.650.000- /Kg berat kering, bergantung  jenis dan ukuran dan kualitas pengolahannya.
2.13.   Kondisi  Fisik – Kimia  Perairan  Pantai

          Wilayah pantai atau pesisir adalah daerah pertemuan antara darat dan laut, ke arah darat wilaya pesisir meliputi bagian daratan baik kering ataupun terendam air yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat air laut, seperti pasang surut, angin laut  dan perembesan air  laut/asin.  Sedangkan ke arah laut wilyah  pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi proses alami yang terjadi di darat, seperti sedimentasi dan aliran air tawar maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran.  Sunaryono, dkk. (1980) dalam  Fransiskus ( 1996).
2.13.1.  Salinitas
          Nybakken ( 1988) dalam  Fransiskus (1996), menyatakan bahwa salinitas  merupakan  ukuran yang biasa dipakai  untuk  menytakan dalam  satuan per mil (0/00). Salinitas dapat didefinisikan sebagai jumlah total bahan padat dalam garam yang terlarut dalam 1 Kg air laut dengan catatan bahwa semua karbohidrat  telah berubah  menjadi oksida, kemudian bromide dan iodida dianggap sebagai klorida dan semua bahan organik telah teroksidasi. Setiap spesies memiliki toleransi  yang berbeda terhadap salinitas, tergantung pada kemampuan  spesies  tersebut  mengendalikan tekanan osmotik yang terjadi di dalam jaringan tubuhnya.  Menurut Pawson (1976) dalam Fransiskus (1996) Holothuria dapat   menyesuaikan  diri  pada  salinitas 30 – 37 0/00.
Holothuridae hidup di daerah yang memiliki salinitas yang normal dan tidak dapat mentolerir salinitas yang  rendah,  Boolootian (1996)  dalam  Hartati (1996).   Selanjutnya  Aryono  (1987)  dalam  Hartati  (1996),  menjelaskan bahwa  spesies  teripang  yang  hidup di daerah karang dapat  mentolerir salinitas 30 - 37 ‰.
2.13.2.   Temperatur /Suhu
Suhu adalah ukuran  energi  gerakan  molekul.   Di lautan suhu bervariasi secara horizontal sesuai dengan garis lintang dan secara vertikal sesuai dengan ke dalaman.  Suhu massa air permukaan di wilayah tropik berkisar antara  20 – 30 oC. Di bawah air permukaan yang hangat, suhu mulai menurun, dan mengalami  penurunan yang sangat cepat pada kisaran kedalaman  yang  sempit yaitu  antara  50- 300 meter.
 Bakus  (1973)  dalam  Hartati  (1996)  Holothuria   ditemukan di semua kedalaman dan di semua laut sehingga dapat disimpulkan bahwa mereka mempunyai toleransi pada kisaran  temperatur yang luas yakni  28-30 oC dan menjadi imotil pada suhu 36 oC.
2.13.3.  Cahaya.
Hartati (1996), menyatakan bahwa umumnya Holothuria bersifat nokturnal di mana mereka aktif mencari makan pada malam hari dan menyembunyikan  diri  pada siang hari. Reaksi terhadap perubahan intensitas cahaya adalah   bervariasi. Terhadap penerangan yang tiba-tiba, beberapa spesies bereaksi   bergerak  menjauh atau berpindah.
2.13.4.   Derajat  Keasaman (pH)
Nybakken (1988) dalam  Fransiskus (1996), derajat keasaman (pH) adalah ukuran untuk menentukan sifat asam atau basa air laut.  Air  laut  memiliki  daya penahan  (buffer)  yang cukup kuat  mencegah perubahan – perubahab pH.   Perubahan pH sangat berpengaruh terhadap proses kimia maupun biologis dari jasad hidup yang berada dalam perairan.
5.  Makanan
Boolootian  (1966) dalam  Hartati  (1996),  menyatakan  bahwa Holothuria   memiliki kecendrungan hidup bergerombol pada suatu areal yang memiliki  kandungan material  organik pada sedimen dasar cukup tinggi.  Makanan dari   teripang yaitu plankton, detritus  dan  kandungan organik yang ada dalam lumpur atau pasir.  Makanan teripang dewasa yang paling utama adalah detritus dan kandungan zat organik yang  ada  dalam  pasir,  sedangkan  plankton,  bakteri, dan biota mikroskopis lainnya adalah sebagai makanan pelengkap (Yusron, 1990).






III.  METODE PENELITIAN

3.1.    Waktu dan Tempat
            Penelitian ini telah dilaksanakan  selama dua bulan yaitu  pada bulan Juni sampai bulan Juli 2011, bertempat di kawasan pesisir pantai Teluk Lombok  Kecamatan  Sangatta  Selatan  Kabupaten Kutai  Timur.
3.2.    Alat dan Bahan
            Alat yang di gunakan dalam penelitian ini seperti yang tertera pada tabel di bawah ini;
Tabel 1.  Alat  yang  digunakan  selama  penelitian

No
Nama Alat
Jumlah
Keterangan
1
Tali
300 m
Membuat 3 garis Transek
2
Handrefraktometer
1 set
Mengukur salinitas
3
GPS
1 set
Menentukan Lokasi Peneltian
4
Kertas Lakmus
1 Unit
Mengukur pH
5
Buku Identifikasi
1 Buah
Untuk identifikasi
6
Kamera
1 Unit
Untuk Dokumentasi
7
Komputer
1 Unit
Untuk in-put

          Sedangkan bahan yang digunakan selama penelitian tertera pada tabel 2 berikut ini :
Tabel 2.  Bahan yang digunakan selama penelitian

No
Nama Bahan
Jumlah
Keterangan
1
Teripang

Objek Penelitian
2

Peta Lokasi Penelitian
1 Unit

Untuk mengetahui Lokasi secara administratif
                  
3.3.    Alur  Penelitian
Prosedur Penelitian

Studi  kepustakaan Teripang              SurveyLokasi


Buku, Jurnal , skripsi hsil Penelitian           Penentuan Stasion

            In put Data Ke Komputer                             Pengambilan data


Skripsi
Gambar 2.  Alur Penelitian
3.4.    Prosedur  Penelitian
          Pada  lokasi penelitian  ditarik  3 buah  garis  transek  dengan  panjang 100 meter dengan menggunakan transek  kwadran  yang berukuran 1 meter x 1 meter   yang dipasang secara  zig- zag dengan jarak  tiap  transek 10 m. Teripang yang berada dalam kwadran transek dihitung jumlah individunya.  Nama jenis  teripang  diidentifikasi menurut buku  ( WoMRS,  2011 ).
1 x 1 m
1 x 1 m
1 x 1 m
1 x 1 m
1 x 1 m
1 x 1 m
1 x 1 m
           
1 x 1 m
1 x 1 m
           
1 x 1 m
1 x 1 m
                        10 M                                  

 


  Bibir Pantai                          100 M                           Ke Arah Laut              
Gambar  3.  Contoh pemasangan Garis Transek
3.5Analisis Data
Analisis data hasil  pengamatan dilakukan secara deskriptif.  Metode yang digunakan adalah metode transek, selain itu dilakukan pengamatan beberapa faktor  abiotik  yaitu ; suhu,  salinitas,  pH, kecerahan  yang diamati bersamaan dengan pengambilan data dengan menggunakan termometer, Handrefraktometer dan kertas lakmus.  Evaluasi data faktor abiotik dilakukan secara deskriptif sesuai dengan kelayakan hidup  teripang.   Frekuensi kehadiran dan  kepadatan  teripang dihitung  berdasarkan  yusron (2007)  yaitu :

            Jumlah titik transek dimana jenis A terdapat
FK             =                                                                                      x 100 %
            Jumlah seluruh titik transek

                        Total individu setiap jenis
Kepadatan (d)    =                                                                         
                                    Jumlah petakan seluruh pengamatan
 yang digunakan untuk mengetahui dominansi jenis (dj) adalah metoda yang  dikembangkan oleh Saito et all (1984 ) dalam  Radjab ( 2001)
dj = c . f,      
dimana :
                f  =  frekuensi jenis
c  = persentase kepadatan total ( berat jenis teripang “i” berat total   individu)
Tabel yang digunakan dari hasil pengolahan data adalah seperti yang tertera dibawah ini :
Tabel  3.  Contoh table hasil pengolahan data
No
Familia/species
Frek %
Kpdt ind/m2
Dominansi %
1.
Holothuridea
-
-
-

4.  HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.   Gambaran  Umum  Lokasi  Penelitian
Gambar 4. Peta Lokasi Penelitian
          Pantai Teluk Lombok terletak pada  00 29’ 44’’ LU  dan 1170 36’43’’ BT. Secara administrasi Teluk Lombok masuk dalam wilayah Desa Sangkima Kecamatan Sangatta Selatan Kabupaten Kutai Timur  yang berbatasan langsung  dengan :
Sebelah utara              : Taman Nasional Kutai
Sebelah Selatan          : Teluk Pandan
Sebelah Timur                        : Selat Makassar
Sebelah Barat             : Desa Sangkima
          Menurut data BPS Kutai  Timur (2006),  penduduk yang mendiami  Dusun  Teluk  Lombok  Desa  Sangkima  yaitu  sebanyak  511 orang Laki-laki dan 468  orang  Perempuan yang  terdiri dari  210 Kepala keluarga.
Pantai Teluk Lombok yang memiliki jarak ±20 Km dari pusat pemerintahan Kabupaten Kutai Timur yaitu kota Sangatta dapat ditempuh dalam waktu ± 1 jam dengan menggunakan kendaraan bermotor.  Untuk mencapai Pantai Wisata Teluk Lombok tidak begitu sulit karena jalur transportasi darat sudah bagus kecuali pada musim hujan karena tekstur jalan masih tahap pengerasan sehingga kondisi jalan pada musim hujan akan licin sehingga berbahaya bagi para pengguna jalan (Simeon, 2008).
Sebagian besar penduduk Pantai Teluk Lombok merupakan pendatang dari sulawesi barat yaitu suku mandar Polewali dan Mamuju yang bermata pencaharian sebagai nelayan, dan juga sebagi penjual makanan dan minuman, karena Pantai Teluk Lombok ramai dikunjungi oleh masyarakat untuk kegiatan rekreasi,  mancing dan  penelitian bagi para mahasiswa.
4.2.  Hasil  Pengamatan  Parameter  Kualitas  Air Teluk  Lombok
Adapun hasil penelitian parameter kualitasair Pantai Teluk Lombok adalah seperti yang tertera pada table berikut ini :
Tabel 4. Parameter Kualitas Air Pantai Teluk Lombok
No
Stasiun
Parameter
pH
Suhu (0C)
Salinitas()
1
I
8
34
35
2
II
9
33
37
3
III
8
40
34





Pengamatan  parameter  kuaitas  air  yang diperoleh pada saat dilakukan pengukuran adalah sebagai berikut.
4.2.1. Suhu
Hasil pengukuran suhu air laut pada daerah pasang surut di pantai Desa Sangkimah Dusun Teluk Lombok Kabupaten kutai Timur dengan menggunakan  termometer dapat dilihat pada tabel 4 yang menunjukan suhu pada derah pasang surut berkisar antara 33-40 0C. Pada stasiun 1 suhu yang diperoleh adalah 340C. Suhu air laut terus mengalami peningkatan dan kecenderungan kenaikan suhu pada daerah pasang surut dipengaruhi oleh penetrasi sinar matahari yang kuat.
Penelitian Radjab  (2000) di perairan  kepulauan Padaido  Biak,  Irian Jaya  pada  pengukuran  suhu memperoleh 30 - 32 oC.  Menurut  Bakus (1973)  dalam  Hartati (1996) Holothuria ditemukan disemua ke dalaman dan disemua laut sehingga dapat disimpulkan   bahwa mereka  mempunyai  toleransi  pada kisaran  temperatur yang  luas  yakni  28 – 30 oC dan menjadi imotil pada suhu 36oC, namun tentakel masih bergerak pada suhu 40 oC.  Jika dibandingkan dengan pengamatan  suhu  di Pantai  Teluk Lombok  diperoleh kisaran suhu 340C, dengan  demikian  maka,  di  Pantai Teluk Lombok masih sesuai untuk kehidupan  teripang.   Anonim  (1989) dalam Radjab  (2000)  di perairan  Sulawesi  Tenggara  kondisi  air  laut  yang sesuai  untuk  pertumbuhan teripang adalah suhu antara,  26 - 32 oC.
4.2.2. Salinitas
Hasil pengukuran Salinitas pada daerah pasang surut pantai Teluk Lombok kecamatan Sangatta Selatan dengan menggunakan Handrefraktometer diperoleh besaran salinitas 35 -37 ‰. Daerah pasang surut pantai Teluk Lombok terdapat aliran sungai kecil yang mempengaruhi salinitas perairannya.  Kisaran salinitas yang terdapat di daerah pasang surut pantai Teluk lombok ini masih dapat ditolerir oleh  teripang kelas holothuriadea  sesuai  dengan  pernyataan  Boolootian (1996)  dalam  Hartati ( 1996) Holothuridae  hidup di daerah yang memiliki salinitas yang normal  dan tidak  dapat  mentolerir  salinitas yang  rendah.  Selanjutnya  Aryono  (1987)  dalam  Hartati  (1996)  menjelaskan  bahwa spesies teripang yang hidup di daerah karang  dapat  mentolerir  salinitas 30 - 37 ‰.
Hasil  pengukuran  kecerahan  diperoleh kecerahan sampai ke dalaman 50-80 cm dari permukaan. Hartati (1996) menyatakan bahwa  umumnya Holothuria bersifat nokturnal di mana mereka aktif mencari makan pada malam hari dan menyembunyikan  diri  pada  siang hari.  Reaksi terhadap perubahan intensitas cahaya adalah bervariasi.  Terhadap penerangan yang tiba- tiba, beberapa spesies bereaksi bergerak  menjauh  atau  berpindah.   Hyman  (1955)  dalam   Yusron  (2007)  menyatakan  teripang peka terhadap matahari, sehingga banyak teripang yang bersifat fototaxis negatif, dalam beradaftasi dengan cahaya matahari, Holothuria atra  menempeli badannya dengan butira pasir halus sedangkan jenis B. Marmorata dan Holothuria scabra membenamkan diri.
4.2.3. Derajat Keasaman (pH)
Pengukuran tingkat keasaman perairan Teluk Lombok dengan menggunakan kertas pH diperoleh ukuran pH perairan yaitu 8-9 (lihat tabel 4). Secara umum pH air laut pada daerah pasang surut pantai Teluk Lombok dapat dikategorikan basa sedang. Perubahan pH air laut pada daerah pasang surut dipengaruhi oleh iklim global,subtrat perairan dan masukan air tawar.
 Menurut Kordi (2010) bahwa syarat pertumbuhan  teripang  adalah pH antara 6,5-8,5.  Kondisi  perairan pada stasiun II dari aspek kimianya adalah  pH 9, salinitas 37 o/oo , suhu 33 oC dengan subtrat pasir halus yang padat dan ditumbuhi lamun.  Pada  stasiun II hanya ditemukan 4 ekor  teripang  jenis holothuria scabra.  Jika dibandingkan dengan Seluruh kondisi hidrologis hasil penelitian Yusron dan Widianwari (1990) di perairan Pantai Kai Besar Maluku Tenggara (Tabel 1),  terjadi perbedaan yang  signifikan antara beberapa indikator fisika dan  kimianya.   Kisaran suhu yakni antara  28 - 30 oC.
Pada saat pengukuran kondisi perairan lokasi penelitian stasiun III didapatkan ukuran suhu  40 oC,  salinitas 34 o/oo , pH 8.   Perbedaan kisaran suhu yang diperoleh dari hasil pengukuran di pantai  Teluk  Lombok yaitu 33 oC diduga karena pengukuran dilakukan pada saat tengah hari dan pada saat kedalaman air hanya berkisar 10 – 15 cm dan perlu diketahui juga bahwa perubahan suhu sangat fluktuatif.  Begitupun halnya dengan pengukuran salinitas yang dilakukan pada saat air surut terendah yang menghasilkan salinitas mencapai 37 o/oo.  Kisaran salinitas ini berbeda jauh dari hasil penelitian Yusron  dan  Widianwari  (1990) yakni  berkisar 32,83 - 33,80 o/oo
Menurut  Hyman  (1955)  dalam   Yusron  dan   widianwari  (1990)  bahwa kondisi temperatur dan kadar garam yang ideal bagi pertumbuhan dan kehidupan teripang adalah berkisar pada suhu antara 28 - 31 oC dengan salinitas 28- 34 o/oo.  Hasil  penelitian  Radjab (2000)  di  Kepulauan Padaido Biak Irian  Jaya  memiliki  salinitas 33 - 35o/oo  dan  suhu berkisar antara 30 - 32 oC.



4.3. Hasil  Pengamatan Per Stasiun Penelitian
4.3.1. Stasiun I
          Posisi  stasiun I terletak pada N 00o 2231’’  dan E 117o 33’ 46’’, perairan  pada  stasiun 1 lokasi penelitian mempunyai tipe habitat dari arah pantai  menuju daerah  pasang  surut  terdiri dari  zona pasir,   tumbuhan lamun dan  terakhir  adalah  terumbu  karang.   Seluruh stasiun pengamatan  merupakan perairan pantai yang landai dan bersubtrat pasir yang ditumbuhi lamun  jenis  Syringodium  isoetifolium  dan  Enhalus  acoroides.   Karang tumbuh tidak merata  akibat  kerusakan  yang disebabkan oleh penangkapan ikan dengan menggunakan  bom  dan  potasium,  akibat pengeboman tersebut banyak  subtrat didaerah penelitian dipenuhi dengan retakan terumbu karang.
Dari hasil pengamatan pada  stasiun I  ditemukan  46  ekor  teripang dari 5 jenis  teripang  yang tergolong dalam 3 Famili.  Pada stasiun I secara berurutan jenis yang mendominasi  adalah  teripang  Pasir  sebanyak  32 ekor, actinopyga miliaris  6 ekor,  opheodesoma sp  sebanyak 7 ekor,  Holothuria  vagabunda sebanyak 1 ekor dan  Stichopus  variegatus  sebanyak 1 ekor.  Kelima jenis teripang tersebut ditemukan pada subtrat pasir yang bercampur dengan  pecahan karang dan cangkang hewan yang ditumbuhi lamun. Pada saat  pengamatan pula ditemukan Holothuria scabra dalam setiap  lokasi  terdapat 2 - 5 ekor.  Radjab (2001)  menyatakan sebagian  besar  teripang  menyukai  daerah  bersubtrat  pasir  dan  ditumbuhi lamun seperti  jenis  Holothuria  scabra  hidup secara berkelompok antara 2-10 ekor dan membenamkan diri lumpur  atau  pasir  yang  banyak ditumbuhi lamun. Teripang  jenis  Holothuria  scabra  dan  H. Atra  menyukai tempat  yang berpasir  dan ditumbuhi  lamun selain karena di daerah padang lamun merupakan daerah  yang sangat produktif  juga dikarenakan  sifat teripang  yang peka terhadap sinar matahari.  Darsono ( 2007) menyatakan bahwa habitat dengan dasar pasir karang yang ditumbuhi lamun (sea grass)  merupakan tempat  hidup  teripang dan juga ditemukan pada habitat yang selalu  di bawah garis surut terendah.  Lebih lanjut  Yusron  (2007)  menyatakan  bahwa banyaknya teripang yang ditemukan di mikrohabitat karang dikarenakan  perlindungan dari sinar matahari, sehingga  lebih banyak teripang  yang  bersifat  phototaxis negative.  Teripang jenis Holothuria scabra menghidari sinar  matahari  dengan cara membenamkan diri dalam pasir serta bersembunyi dibalik  tumbuhan lamun, sedangkan Holothuria atra menempeli tubuhnya dengan  butiran pasir untuk memantulkan cahaya sehingga suhu tubuhnya lebih rendah  (Bakus ,1973)  dalam  (Yusron ,2007).
Tabel  5.  Frekuensi kehadiran dan kepadatan Teripang Hasil Pengamatan
pada Stasiun I
No
Familia/species
Frekuensi (%)
Kepadatan (ind/m2)
Dominansi        ( %)
1.
Holothuridae
- Holothuria scabra
-Holothuria vagabunda
-actinopyga miliaris

70
10
40

0,32
0,01
0,06

0,322
0,046
0,184
2.

Synaptidae
- Opheodesoma sp

50

0,07

0,23
3.
Stichopodidae




- Stichopus variegates
10
0,01
0,046

Teripang yang ditemukan selama penelitian berjumlah 88 ekor yang terdiri  dari  3  famili  dan  terbagi  dalam  8 jenis.   Jenis teripang  yang ditemukan di  pantai   Teluk  Lombok ini dapat digolongkan  ke dalam  ordo Aspidocchirotida.  Sesuai dengan  hasil  penelitian  Bakus (1973)  dalam   Radjab  ( 2000)  yang mengemukakan bahwa Aspidocchirotida banyak terdapat  di daerah tropis. Hasil penelitian teripang di Pantai Teluk Lombok tidak memiliki  perbedaan  yang cukup signifikan dengan hasil penelitian di daerah lain.  Hasil penelitian  Yusron (2007) di perairan pantai Morella Ambon menemukan 10 jenis  teripang  lebih lanjut penelitian Yusron (2004) menemukan 11 jenis teripang yang bernilai  ekonomis.  Yusron (2007) di perairan pulau Moti – Maluku Utara  menemukan 8 jenis teripang yang tergolong dalam 2 kelas (Holothuroiidae  dan  Stichopodidae).   Hasil analisis data  menunjukkan  bahwa  frekuensi  kehadiran dan  kepadatan mempunyai nilai yang cukup bervasiasi (Tabel 6).
Tabel 6.  Penyebaran teripang berdasarkan mikrohabitat pada Stasiun I di
               Pantai Teluk Lombok
No
spesies
pasir
lamun
karang
1.
2.
3.
4.
5
Holothuria scabra
Holothuria vagabunda
Actinopyga miliaris
Opheodesoma sp
Stichopus variegatus
+
+
+
+
-
+
-
+
+
-
+
-
-
-
+

          Dari tabel  penyebaran  teripang  mikrohabitat  di atas menunjukan bahwa Holothuria scabra mampu menempati semua habitat, selain itu juga berkaitan dengan tingkah laku teripang yaitu upaya meredam pengaruh intensitas  cahaya matahari  kuat dan menghindari suhu yang relatif tinggi dengan cara berlindung dibalik karang dan lamun serta membenamkan diri dalam pasir  (Aziz , 1995).
Gambar 5.  Grafik Hubungan Dominansi Jenis dengan Frekuensi Kehadiran

Frekuensi kehadiran tertinggi didapatkan pada jenis Holothuria scabra (70%) Opheodesoma sp ( 50 %), actinopyga miliaris (40 %) dan selanjutnya  Holothuria vagabunda dan Stichopus variegates masing – masing (10 %). Penelitian  Yusron  (1995)  di perairan  Kai Kecil  Maluku  menemukan  frekuensi tertinggi  diseluruh  lokasi  penelitian yaitu  dari  jenis Actinopyga  mauritiana (83’3 %) dan jenis lainnya hanya  (33,3 % - 66,7 %).
Gambar 6.  Grafik Hubungan Kepadatan dan Dominansi
Berdasarkan hasil analisis data diperoleh Kepadatan teripang yang tertinggi yaitu dari jenis Holothuria scabra (0,32 indv/m2) diikuti oleh Opheodesoma sp  (0,07 indv/m2), actinopyga  miliaris  ( 0,06 indv/m2)  Holothuria vagabundadan Stichopus variegatus ( 0,01 indv/m2 ).   Jika dibandingkan dengan hasil penelitian Yusron (2005) di perairan Pulau Moti, Maluku Utara yang  mendapatkan  kepadatan  teripang  tertinggi dihuni oleh Holothuria  scabra (1,12 indv/m2 ) dan Holothuria atra (1,02 indv/ m2 ).  Kepadatan teripang dari jenis- jenis tersebut dimungkinkan oleh kemampuan mereka menempati berbagai habitat sehingga lebih banyak pula kesempatan berkembang ( Yusron, 2005 ),   lebih lanjut  penelitian  Yusron  (2003)  di perairan Teluk Kotania ,  Seram  Barat- Maluku Tengah memperoleh kepadatan tertinggi diduduki oleh jenis Holothuria  scabra (1,32 ind/m2) Holothuria atra ( 1,24 indv/m2 ) dan B. argus ( 1,02 ind/m2) dan yang lain (1,00 ind/m2).
Gambar 7.  Grafik Hubungan Frekuensi Kehadiran dan Kepadatan
            Dari gambar di atas R2 =1, ini menunjukan bahwa hubungan antara frekuensi kehadiran dan kepadatan sangat kuat,  arah hubungan apabila variabel  terikat (Y) naik maka akan di ikuti oleh kenaikan variabel bebasnya (X).
4.3.2. Stasiun II
Stasiun II berada pada posisi N 00o    22’ 85’’ dan E117o 33’ 75’’.  Kondisi lokasi pada satasiun ini memiliki subtrat yang berpasir halus dan ditumbuhi oleh lamun, daerah ini merupakan sentral kegiatan pariwisata  oleh orang-orang yang berasal dari Sangatta dan Bontang.  Daerah ini digunakan sebagai area bermain (banana boat, berenang, serta bola pantai)
Hasil penelitian yang dilakukan pada stasiun II menemukan jenis teripang Holothuria scabra sebanyak 4 ekor, yang terdapat di padang lamun dengan subtrat pasir halus dan padat. Jika dibandingkan dengan pernyataan Radjab  (2000) yang menyatakan bahwa  habitat  yang  baik bagi teripang adalah habitat yang memiliki subtrat lumpur, pasir sangat kasar,  kerikil,  cangkang moluska dan hancuran karang, ini berkaitan dengan sifat borrowing (membenamkan diri) dari  teripang  tersebut.
Hasil analisis data Kepadatan teripang pada stasiun II berada pada kisaran angka 0,04, jika dibandingkan dengan hasil pengamatan pada stasiun I kepadatan teripang pada stasiun II ini sangat berbeda jauh atau kurang. Kepadatan  teripang disuatu  tempat  dipengaruhi  oleh  kemampuan  teripang itu sendiri  dalam  menempati habitat dalam hal berkembang biak serta ketersediaan  makanan (Radjab, 2000).
Pada stasiun II ini hanya ditemukan teripang jenis Holothuria scabra dengan frekuensi kehadiran 30 %, kurangnya ditemukan pada stasiun II dikarena daerah ini merupakan lokasi dengan tingkat aktifitas yang cukup tinggi  yaitu  dijadikan  tempat  untuk  berwisata  (bermain banana boat dan berenang).
Selain itu juga dikarena teripang tersebut membenamkan diri kedalam pasir, seperti apa yang dikemukakan oleh Heryanto (1984) dalam Yusron (2007), bahwa didaerah karang dan rumput laut cukup banyak ditemukan teripang oleh karena kebutuhan perlindungan sinar matahari.
 Hyman  (1955)  dalam   Yusron  (2007),   mengemukakan  jenis teripang B. Marmorata dan H. scabra yang terdapat dimikrohabitat pasir mempunyai kemampuan menghindari sinar matahari dengan cara membenamkan diri di pasir,  dan   Holothuria  atra  menempeli  badannya  dengan  pasir.
Tabel  7. Pengamatan  frekuensi  kehadiran & Kepadatan Teripang Stasiun II
No
Familia/species
Frek %
Kpdt ind/m2
Dominansi %
1.
Holothuridae
- Holothuria scabra

30

0,04

0,012
2.
Synaptidae
-
-
-
3.
Stichopodidae
-
-
-

4.3.3. Stasiun III
Posisi stasiun pengamatan III berada disebelah kiri pelabuhan Teluk Lombok dengan titik  kordinat  N 00o 23’ 342’’ dan  E 117o 33’ 980’’.  Pada stasiun III terdapat pohon mangrove dengan subtrat yang  terdiri dari pecahan karang, cangkang moluska dan pasir yang sangat kasar serta ditumbuhi lamun yang berbatasan langsung dengan mangrove.
Hasil penelitian menemukan 6 jenis teripang dari 3 famili, yaitu Holothuridae ada  empat jenis ( H. atra, H. scabra, H.leucospilota dan Actinopyga echinites), Synaptidae satu jenis (Synapta maculata ) dan Stichopodidae dua jenis ( Stichopus  variegatus  dan Stichopus  horrens ).
Gambar 8.  Grafik Hubungan  Frekuensi  Kehadiran  dengan Kepadatan
Frekuensi kehadiran dan kepadatan
            Hasil pengamatan selama penelitian frekuensi  kehadiran  jenis–jenis  teripang yang tertangkap pada stasiun III, maka Synapta maculata memiliki nilai yang teringgi  (50%) disusul Holothuria scabra (40 %) dan Holothuria atra, Holothuria leucospilota serta Stichopus variegates  dan Stichopus horrens masing- masing (20%). Jenis Synapta maculata yang ditemukan sebanyak 7 ekor, Holothuria scabra 6 ekor, Holothuria atra 2 ekor, Sichopus hoorrens 2 ekor, Stichopus variegatus2 ekor, Holothuria leucospilota 6 ekor dan Actinopyga echinites 13 ekor.
Tabel  8.  Pengamatan frekuensi kehadiran & Kepadatan  Teripang Stasiun III

No
Familia/species
Frekuensi (%)
Kepadatan (ind/m2)
Dominansi (%)
1.
Holothuridae
- Holothuria scabra
-Holothuria atra
-Holothuria leucospilota
- Actinopyga echinites

40
20
20
40

0,06
0,02
0,06
0,13

14,4
7,2
7,2
14,4
2.

Synaptidae
-Synapta maculata

50

0,07

18
3.
Stichopodidae
- Stichopus variegates
-Stichopus horrens

20
20

0,02
0,02

7,2
7,2

Dari ketiga stasiun penelitian, stasiun III lebih variatif dibandingkan stasiun lainnya, ditemukannya jenis lain yang tidak terdapat distasiun I dan II dikarena  kemampuan  organisme untuk menempati  habitat,  selain itu pula pada stasiun III kondisi perairan masih relatif alami dengan kondisi perairan yang cukup jernih dan tenang  serta  terdapat  hutan  mangrove, lamun dan karangRadjab (2000), menyatakan bahwa teripang dapat ditemukan hampir diseluruh perairan pantai, mulai dari daerah pasang surut sampai perairan dalam dan menyukai perairan yang jernih dan relatif tenang.Subtrat pada stasiun III ini adalah pasir kasar dan pecahan-pecahan karang serta cangkang/rumah siput. Yusron (2007) menyatakan teripang umumnya menyukai  mikrohabitat karang, namun  7 jenis diantaranya menempati rumput laut,  4 jenis menempati pasir dan 3 jenis menempati mikrohabitat lamun.  Umumnya masing-masing jenis memiliki habitat yang  spesifik.  Radjab  (2000)  lebih lanjut hasil  penelitian Radjab  (2000) di perairan Kepulauan Padaido, Biak Irian jaya perairan pantai yang bersubtrat lumpur, pasir yang sangat kasar, kerikil, cangkang molluska dan hancuran karang, merupakan habitat yang baik bagi teripang yang mana sesuai dengan sifat membenamkan diri (borrowing), dari teripang tersebut, karena ukuran pasir sedang  teripang dapat  membenamkan  diri dengan mudah.  Jadi dapat dikatakan  bahwa  penyebaran teripang  pada setiap lokasi tidak sama, baik dalam  jumlah  jenis maupun  jumlah  individu.     
Tabel 9. Penyebaran teripang berdasarkan mikrohabitat pada Stasiun III di
              Pantai Teluk Lombok
No
spesies
Pasir
lamun
karang
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7
Holothuria scabra
Holothuria atra
Holothuria leucospilota
Actinopyga echinites
Synapta maculata
Stichopus variegates
Stichopus horrens
+
+
+
+
-
-
-
+
-
+
+
+
+
+
+
-
-
+
-
+
+

Daerah yang  bersubtrat  lamun sangat  kaya akan sumber makanan bagi teripang, karena lamun merupakan sedimen trap (penangkap sedimen).  Teripang adalah pemakan detritus dan lebih banyak hidup dengan membenamkan diri dalam lumpur dan pasir, sebagian besar lebih cenderung menempati habitat  yang ditumbuhi lamun (Radjab, 2000).
Berdasarkan hasil penelitian  (Tabel 9) Actinopyga  echinites menempati  urutan pertama kepadatan individu pada stasiun III (0,13 ind/m2) disusul synapta maculata ( 0,7 ind/m2) kemudian Holothuria scabra dan Holothuria leocospilota (0,6 ind/m2) dan terahir Holothuria atra, Stichopus horrens, Stichopus variegatus (0,2 ind/m2).  Hasil penelitian  Radjab ( 2000 ), menemukan  kepadatan   teripang  di perairan Pasarwajo Pulau Buton Sulawesi Tenggara ditempati oleh Holothuria hilla (0,012 ind/m2) diikuti Holothuria scabra ( 0,001 ind/m2). Lebih lanjut  dikatakan bahwa kepadatan menurut jenis  tersebut dapat disebabkan oleh kemampuan teripang menempati habitat.  Penelitian Yusron (2007) di Pulau Moti Maluku Utara menemukan kepadatan teripang jenis Holothuria scabra (1,12 ind/m2) dan Holothuria atra (1,02 ind/m2) pada stasiun I sedangkan Stasiun II kepadatan Holothuria  scabra  (1,08 ind/m2)  dan  Holothuria atra  (1,06 ind/m2).
4.3.4. Frekuensi  Kehadiran  Teripang di Pantai  Teluk Lombok
 Pantai Teluk Lombok memiliki jenis teripang yang relatif tinggi Jika dibandingkan dengan hasil penelitian Radjab (2000) di perairan Kepulauan Padaido Biak,  yang menemukan 4 jenis teripang.   Kehadiran 6 jenis teripang di Pantai  teluk Lombok dikarenakan adanya subtrat  yang terdiri dari pasir kasar yang ditumbuhi lamun.  Darsono (2007), menyatakan bahwa habitat dengan dasar pasir karang yang ditumbuhi lamun (sea grass) merupakan tempat hidup teripang.   Kehadiran beberapa jenis  teripang selain dipengaruhi oleh subtrat juga dipengaruhi oleh faktor makanan.
4.3.5.  Dominansi Jenis
          Dari  Tabel 6 dapat dilihat bahwa jenis teripang yang dominan yang mendiami stasiun I secara berurutan adalah Holothuria scabra (0,322%), Opheodesoma sp (0,23% ), actinopyga  miliaris (0,184%),  Holothuria vagabunda dan Stichopus (0,046%) yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.   Sebagai  pembanding  di perairan Pasarwajo,  Pulau Buton Sulawesi Tenggara  hasil  penelitian   Radjab  (2001)  menemukan  jenis teripang yang  dominan adalah  H. Hilla  (0,029 %)  diikuti oleh jenis  B similis  dan H. Scabra (0,001% ). 
Gambar 9.  Grafik Hubungan Dominansi dan Kepadatan
Perbedaan Dominansi tersebut dikarenakan kemampuan tiap jenis teripang untuk beradaptasi dan bertahan hidup pada suatu  tempat  tidak sama. Holothuria scabra  memiliki  kemampuan adaptasi yang cukup tinggi, holothuria scabra  dapat hidup disetiap daerah baik daerah terumbu karang,  pasir ataupun daerah lamun, serta bisa beradaptasi dengan kisaran suhu yang cukup luas.  Keberadaan Holothuria scabra disetiap makrohabitat tersebut oleh karena kebutuhan perlindungan dari sinar matahari, karena teripang peka terhadap sinar matahari sehingga teripang bersifat phototaxis negatif, untuk jenis Holothuria scabra adaptasi terhadap sinar matahari dengan cara membenamkan diri dalam pasir, serta berlindung dibalik karang dan lamun Hyman  (1955) dalam  Yusron (2007)Berdasarkan pada Tabel 8 Stasiun III didominansi oleh jenis Holothuria echinites dan Holothuria scabra (14,4 %) selanjutnya jenis Synapta  maculata (18%) dan seterusnya jenis lain (7,2%). Hasil penelitian Radjab (2000)  menemukan jenis Holothuria hilla mendominansi perairan Pasarwajo Buton Sulawesi Tenggara dengan nilai (0,029%) disusul oleh jenis B. smilis dan  Holothuria  scabra (0,001%).
Gambar 10.  Grafik Hubungan  Frekuensi Kehadiran dan Dominansi Jenis
Jika dibandingkan dengan hasil penelitian di Pantai Teluk Lombok dengan  penelitian Radjab (2000)  terjadi perbedaan dominansi  jenis,  untuk jenis Holothuria scabra sendiri dalam penelitian Radjab (2000) di perairan  Pasarwajo Buton  Sulawesi Tenggara  diperoleh (0,001%), hasil penelitian yang dilakukan di Pantai Teluk Lombok didapatkan  dominansi jenis Holothuria scabra pada stasiun I yaitu (0,322%).
Gambar 11. Grafik Hubungan pH dan Frekuensi Kehadiran
Berdasarkan gambar grafik di atas menunjukan bahwa sifat keasaman dari air laut sangat berpengaruh terhadap frekuensi kehadiran teripang di pantai Teluk Lombok.


Gambar 12. Grafik Hubungan salinitas dengan Frekuensi Kehadiran
Gambar 13. Hubungan Suhu dengan Frekuensi Kehadiran
Pertumbuhan biota laut di daerah pasang surut sangat tinggi, disebabkan karena daerah ini merupakan tempat hidup, tempat berlindung, dan tempat mencari makan. Selain itu, kondisi lingkungan pada daerah ini sangat menguntungkan bagi pertumbuhan biota laut karena adanya dukungan dari faktor fisika, kimia, dan biologis laut.  Faktor fisika-kimia laut meliputi salinitas, pH, arus, suhu, dan kecerahan yang selalu berubah-ubah sangat berpengaruh terhadap kehidupan organisme di daerah pasang surut.
V.    KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.  Kesimpulan
          Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Pantai Teluk Lombok maka,  frekuensi  kehadiran   teripang  tidak merata pada  tiap stasiun  penelitian  frekuensi kehadiran  teripang  tertinggi  pada stasiun I yaitu  70 % dari  jenis Holothuria scabra kemudian Ophedesoma sp sebesar 50 %, disusul Acktinopyga miliaris sebesar 40 % selanjutnya H. vagabunda dan stichopus variegatus  masing- masing 10%.  Kepadatan Teripang  tertinggi yaitu jenis Holothuria scabra  dengan kisaran 0,32 ind/m2.  Teripang yang mendominansi di Pantai  Teluk  Lombok adalah dari Kelas  Holothuridea  ( Holothuria  scabra,  H.  atra ,  actinopyga echinites,  H. lescopilota).  Keberadaan teripang dari kelas/Famili  Holothuridea  ini, mungkin  karena  kemampuan  untuk  menempati  habitat, serta  kemampuan  adaptasi  terhadap lingkungan  (suhu, dan salinitas) yang cukup tinggi
5.2. Saran
          Untuk mendapatkan data yang lebih akurat, maka perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan pengamatan yang lebih teliti. Perlu adanya aturan dari pemerintah atau instansi terkait dalam hal pengembangan daerah budidaya pantai agar tidak terjadi tumpang tindih penggunaan lahan.



Komentar