Perupuk Kampung Yang Ku Rindukan

PERUPUK DALAM INGATAN

BY RAHMAN AL MANDARY



Dengan mengucap rasa syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan sekaian apa yang ada di bumi dan apa yang ada di langit. Alhamdulillah saya sebagai manusia yang tidak memiliki daya dan upaya kecuali atas kehendak dan pemberian dari-Nya, atas segala nikmat sehat serta keluangan waktu yang diberikan, sehingga pada kesempatan ini saya bisa untuk mengetik sesuatu apa yang tersimpan dalam memori ingatan saya semenjak dua puluhan tahun lebih yang telah berlalu.

Tulisan ini saya berikan judul seperti yang tertera di atas merupakan wujud pengingatan kembali saya terhadap sebuah daerah di seberang pulau Sangkulirang yang diberi nama Perupuk. Apa yang akan saya uraikan ini nantinya merupakan segala sesuatu yang pernah saya alami dan lakukan pada kala itu, tentunya sesuai dengan apa yang masih teringat dan tersimpan dalam memori internal saya pribadi, baik bersama keluarga, tetangga serta teman-teman kala itu.

Saya mencoba mengawali cerita, dengan memulai dari keberangtan saya bersama keluarga, Bapak (Sumaali), Ibu (Saenab) dan Saudara perempuan (Sanani). Tujuan kami adalah sebuah daerah di Kabupaten Kutai (sekarang Kutai Timur) Kecamatan Sangkulirang Desa Tanjung Manis, daerah itu namanya PERUPUK. Kepergian kami sekeluarga adalah menyusul kakak (Jaohar dan Ahmad) yang lebih dulu merantau ikut sama Om Badulu  dan Tante Fatimah (saudara dari mama) untuk berkebun.

Kami berangkat dari pelabuhan pare-pare menggunakan kapal kayu dengan nama Tanjung Selamat. Kala itu jika tidak salah ingat sekitar tahun 87 atau 88 (maklum belum tau mengenai tahun, karena belum sekolah dan juga tidak ada yang mengingatkan, orang tua dulu ya banyak yang g bisa baca tulis). Kapal tanjung Selamat berangkat dari pelabuhan Pare-pare menuju Sangkulirang di Pulau Kalimantan (Kalimantan Timur).Pada zaman itu Sangkulirang masih jadi destinasi kapal-kapal untuk berlabuh, masih ramai sebagai salah satu pelabuhan penghubung antar pulau dan juga merupakan jalur transportasi terpadat pada saat itu.

Setelah berlayar selama 2 (dua) hari 2 (dua) malam akhirnya sampai di pelabuhan Sangkulirang, terdapat beberapa kapal yang bersandar serta hilir mudik speedboat yang mengantar penumpang ketujuan masing-masing. Setibanya di Sangkulirang sebagai seorang anak kecil yang pingin tau berbagai hal ditempat yang baru, saya mencoba turun dari kapal kala itu, aroma pelabuhan yang khas sampai saat ini masih teringat adalah aroma jeruk (lemo china, sebutan kami) dan lalu lalang penjual buah-buahan di atas pelabuhan, saya meminta bapak dan ibu untuk membelikan nangka, pertama kali saya mendengar penyebutan harga selawe (dalam bahasa Mandar lawe adalah mulut) merasa lucu aja dengan sebutan itu, harga sepotong nangka kala itu hanya Rp.25 (selawe).

Sangkulirang bukanlah tujuan akhir, kami harus naik kapal ataupun ketinting menuju Perupuk yang ditempuh kurang lebih 1 (satu) Jam dari Sangkulirang. Setelah bongkar barang dan naik perahu/kapal akhirnya sampai juga di Perupuk. Setibanya di pantai Perupuk setelah melewati Tanjung Manis dan lumut serta cerincang akhirnya kami turun, namun karena tekstur pantai perupuk adalah lumpur, sehingga ketika menginjakan kaki ke dalam akan tenggelam, akhirnya saya diangkat menuju pinggir pantai.

Awal tiba di Perupuk kami sekeluarga tinggal di rumah Tante Fatimah saudara dari mama yang sudah lama merantau dan sudah bersuamikan orang Bugis bernama Leha, tante memiliki kebun kelapa yang luas, dan disinipula beberapa sepupu bekerja untuk mengelola kepala menjadi kopra, saking banyaknya dan luasnya kebun kelapa tante saat itu, sebelum habis dipanjat buah yang lainnya sudah tua kembali, sehingga banyak buah kelapa yang jatuh sendiri dan tumbuh.

Kakak (Jauhar) bukan berarti tidak memiliki lahan, saya ingat sekali waktu kami baru datang, kami berjalan-jalan ke kebun kakak yang tidak begitu jauh dari rumah tante, sampai di kebun kakak jao panggilannya, kami melihat sebuah pondok yang sudah jabuk berisi jagung yang sudah mulai berulat. kakak ternyata habis panen jagung namun tidak bisa dijual kerana akses waktu itu hanya mengandalkan transportasi laut dan itupun hanya ada waktu-waktu tertentu jika air laut tidak konda (surut) dan itu ada hitungannya sendiri (Pasang-surut).

Perupuk yang masuk dalam administrasi Desa Tanjung Manis ketika itu merupakan daerah penghasil kelapa dan pisang, kelapa diolah jadi kopra ada juga dijual langsung, namun kebanyakan kopra dan yang paling banyak memiliki kelapa yaitu suami tante fatimah yaitu Leha. Pisang salah satu komoditas terbanyak setelah kelapa, jadi penghasilan masyarakat Perupuk adalah hasil perkebunan kelapa dan pisang.

Kakak sendiri baru memiliki kebun pisang, pada saat kami baru datang kebunnya dipenuhi semak belukar dan bahkan pohon-pohon kayu yang mulai meninggi, pohon pisang tidak tampak jelas karena ditutupi pohon dan semak belukar. Kebun pisang kakak kala itu masih sedkit karena tidak dikelola dengan baik. Ketika kami datang, bapak ikut membersihkan kebun dan menanami pisang.

Cerita di atas merupakan pengantar dalam mengingat awal merantau bersama keluarga dari Mandar ( Paayumang, Balanipa, Tinambung, Polmas), cerita selanjutnya akan dibuat dari berbagai kejadian yang masih terekam dalam memori yang sampai saat ini yang masih tersimpan. Adapun nanti yang akan menjadi cerita berikutnya adalah perjumpaan dengan salah satu anak-anak dari penduduk asli setempat (Kutai/Banjar), yang sedang memasang jebakan burung di kebun kakak.


Kani Sang Penjerat Burung Dari Tabuan

Lanjut cerita, bahwa setelah beberapa hari tiba di Perupuk, kami (sebenarnya bapak dan kakak aja) membersihkan kebun, menebas belukar dan menebang pohon-pohon kayu yang mulai membesar, setelah itu menanam pisang, kelapa dan juga pohon coklat. Selain itu pondok atau bisa dibilang gubuk yang tadinya digunakan untuk menampung jagung mulai diperbaiki, dengan harapan bisa ditempati. Pada saat itu jarak rumah yang satu dengan rumah yang lainnya berjauhan, karena setiap orang mendirikan rumah dimana kebunnya berada.

Apa yang saya tulis di atas adalah sebagai penambah informasi saja, kita kembali ke laptop, eits tema maksudnya. Disaat kami lagi mengunjungi kebun dan melihat-lihat gubuk, tidak jauh dari pondok terdengar beberapa anak sedang mengejar burung, kalau tidak salah mengingatnya, burung hasil tangkapannya ada yang lepas, burung tadi hampir semua bulunya rontok, orang-orang dan anak-anak di Perupuk menyebutnya burung kore-kore, dan sampai saat ini saya belum tau apa nama Indonesianya apalagi nama Latinnya...Nanti saya akan coba foto burung tersebut mohon dibantu ya para pembaca yang budiman.

Setelah melihat anak tersebut, saya juga masih anak-anak pada saat itu, dan semenjak sampai di Perupuk saya belum punya kenalan anak-anak sebaya saya, selain dari sepupu Bas ( Basmiati nama lengkapnya). Melihat sang anak memegang burung saya tertarik untuk melihat dan mencoba untuk berbicara, namun apa yang terjadi saya sebagai anak kampung, walaupun Perupuk juga kampung, saya tidak bisa berkomunikasi dengan baik, mengapa?? karena persoalan bahasa, saya tidak mengerti bahasanya dan diapun tidak faham bahasa yang saya gunakan, akhirnya apa?? pakai bahasa isyarat aja seperti orang tuna rungu (maaf, bukan menyinggung ya!!).

Oh iya belum saya sampaikan ya siapa nama anak tersebut??? saat itu juga saya tidak tau apalagi mengenalnya, tapi karena saya belum punya kawan ya saya sok akrab lah supaya punya teman, ok saya akan memberitahukan nama anak tersebut adalah Kani, nama lengkapnya saya tidak tau, sumpah sampai saat inipun saya tidak tau. Ok kita lanjutkan kembali, siapa sangka Kani yang jago dalam memasang perangkap burung ini (baca ;Jerat) menjadi teman karib saya selama tinggal di Perupuk beberapa tahun lamanya.

Pada awalnya komunikasi kami hanya sebatas isyarat, lambat laun dari hari ke hari dan bulan ketemu bulan akhirnya komunikasi kami bisa dimengerti satu sama lain dengan menggunakan bahasa Melayu dan Kutai, hari-hari kami lalui dengan gembira, menangkap burung, pakai ketapel dan jerat, dari jenis burung, punai, tekukur, kore-kore yang suka makan pisang baro'bo sebutan orang Perupuk. Pisang ini juga yang bagus atau bahan baku untuk rimpi (pisang asap). Selain menjerat burung dan main ketapel kami juga memainkan permainan tradisional lupa apa namanya yang mainnya pake kayu, kayu yang dipukul panjangnya sekitar 15 cm yang ditaruh di tanah, lebih jelasnya lihat gambar di bawah, ini saya ambil di google (https://budayajawa.id/permainan-tradisional-patil-lele/) ini namanya di Jawa kalau Kalimantan Timur saya belum tau
Hasil gambar untuk permainan tradisional pukul kayu
Inilah salah satu yang sering kami mainkan saat itu. Selain itu kami juga sering taruhan karet gelang. Sering pula kami pasang jebakan kepiting, dengan cara memasang nilon di depan lubang kepiting yang diberi umpan daun. Suatu kepuasan tersendiri ketika kepiting yang kita pasangi jebakan kena, dengan semangat kita menarik tali nilon yang terkadang putus, bahkan kami juga sering menggali lubang kepiting yang kena trap, tentunya butuh kehati-hatian untuk menarik karena bisa saja kena jepitan kepiting yang lumayan sakitnya.

Banyak kisah perjalanan yang saya lewati bersama Kani, karena diantar beberapa teman atau sahabat yang saya kenal, Kani bisa dikatakan adalah teman karib, namun terkadang pula terjadi pertengkaran yang lumrah bagi seorang anak-anak, tidak butuh lama untuk kembali bersahabat setelah pertengkaran. Keseharian kami lalui dengan banyak menjerat burung yang diselingi oleh kegiatan mandi bersama disebuah kebun jeruk dekat pantai yang memiliki got yang luas dan agak dalam airnya.

Kami termasuk anak-anak yang usil dan nakal pada saat itu, ya nakal pada zamannya, kebun jeruk  tempat kami mandi, kami ambil buahnya dan kami bawa pulang, tentunya tidak sampai dibawa ke rumah, karena takut ketahuan orang tua dan pasti akan dimarahi, karena mengambil milik orang tanpa sepengetahuan pemiliknya alias mencuri. Namun itulah kenakalan anak-anak seusia kami pada kala itu, bukan hanya itu saya sendiri dipanggil batta (bahasa bugis) artinya nakal, karena pada saat melewati kebun pisang orang pasti parang yang saya bawa menebas pohon pisang.

Selama tinggal di Perupuk kira-kira 2-3 tahun, semua yang terekam sampai saat ini hanyalah kejadian-kejadian yang saya alami bersama Kani si penjerat burung, karena memang Kani adalah teman karib selama berada di Perupuk, walaupun teman-teman yang lain juga ada, seperti Bora dan Kama, nanti saya akan coba paparkan meskipun tidak banyak yang masih teringat dengan mereka.



Komentar